AKDR dapat dicabut sebelum waktunya bila dijumpai:
- Ingin hamil kembali.
- Terjadi kehamilan.
Pencabutan
Peralatan yang digunakan :
a. Korentang 1 set
b. Bivalve Spekulum 1 buah
c. Ekstraktor AKDR / tampon tang 1 buah
d. Kom kecil
e. Sarung tangan DTT 1 pasang
f. Kain kassa/kapas
g. Wadah berisi larutan klorin 0,5%
h. Cairan antiseptik (mis:povidon iondin)
i. Lampu sorot/senter
Proses pencabutan :
Beritahukan pada akseptor bahwa hal ini tidak akan menimbulkan rasa sakit.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1) Cuci tangan dengan 7 langkah cuci tangan
2) Pasang sarung tangan steril.
3) Lakukan vulva hygiene
4) Pasanglah spekulum steril kedalam vagina dan cari letak benang
5) AKDR akan tercabut keluar uterus
6) Jepit benang sedekat mungkin dengan cervix
7) Beri tahukan klien pencabutan akan dimulai
8) Klem ditarik secara pelan terkendali
9) Bila tahanan terlalu kuat benang dapat putus
10) Usahakan menjepit benang yang tersisa
11) Lakukan kembali tarikan.
12) Bila tidak berhasil diangkat, kanalis servikalis lebarkan dengan dilatator Hegar
dalam anestesi lokal para servikalis atau dengan batang laminaria.
13) Kalau benang tidak ditemukan, alat dalam rahim dikeluarkan dengan cunam
buaya, pengait logam atau mikrokuret dengan anestesi lokal para servikal.
14) AKDR yang telah di cabut ditunjukkan pada klien
AKADEMI KESEHATAN RAJEKWESI BOJONEGORO
PRODI DIII KEBIDANAN
TAHUN AKADEMIK 2010/2011
ada dua tipe manusia didunia ini, satu adalah ia yang hidup dan bekerja untuk mimpinya, dan yang ke dua adalah dia yang berhenti pada mimpinya dan ia bekerja untuk mimpi orang lain.
Senin, 31 Januari 2011
ASKEB perawatan luka perineum
Pengertian Perawatan Luka Perinium
Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz, 2004). Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus (Danis, 2000). Post Partum adalah selang waktu antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil (Mochtar, 2002). Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.
Tujuan Perawatan Perineum
Tujuan perawatan perineum menurut Hamilton (2002), adalah mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan.
Sedangkan menurut Moorhouse et. al. (2001), adalah pencegahan terjadinya infeksi pada saluran reproduksi yang terjadi dalam 28 hari setelah kelahiran anak atau aborsi.
Bentuk Luka Perineum
Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu :
1. Rupture
Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan. (Hamilton, 2002).
2. Episotomi
Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi (Eisenberg, A., 1996).
Episiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anestasi lokal, kecuali bila pasien sudah diberi anestasi epiderual. Insisi episiotomi dapat dilakukan di garis tengah atau mediolateral. Insisi garis tengah mempunyai keuntungan karena tidak banyak pembuluh darah besar dijumpai disini dan daerah ini lebih mudah diperbaiki (Jones Derek, 2002).
Pada gambar berikut ini dijelaskan tipe episotomi dan rupture yang sering dijumpai dalam proses persalinan yaitu :
1. Episiotomi medial
2. Episiotomi mediolateral
Sedangkan rupture meliputi
1. Tuberositas ischii
2. Arteri pudenda interna
3. Arteri rektalis inferior
Gambar 1. Tipe-Tipe Episiotomi
Lingkup Perawatan
Lingkup perawatan perineum ditujukan untuk pencegahan infeksi organ-organ reproduksi yang disebabkan oleh masuknya mikroorganisme yang masuk melalui vulva yang terbuka atau akibat dari perkembangbiakan bakteri pada peralatan penampung lochea (pembalut) (Feerer, 2001).
Sedangkan menurut Hamilton (2002), lingkup perawatan perineum adalah
1. Mencegah kontaminasi dari rektum
2. Menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma
3. Bersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau.
Waktu Perawatan
Menurut Feerer (2001), waktu perawatan perineum adalah
1. Saat mandi
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
2. Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi kontaminasi air seni padarektum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
3. Setelah buang air besar.
Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum secara keseluruhan.
Penatalaksanaan
1. Persiapan
a. Ibu Pos Partum
Perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi dengan posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki terbuka.
b. Alat dan bahan
Alat yang digunakan adalah botol, baskom dan gayung atau shower air hangat dan handuk bersih. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air hangat, pembalut nifas baru dan antiseptik (Fereer, 2001).
2. Penatalaksanaan
Perawatan khusus perineal bagi wanita setelah melahirkan anak mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan dengan prosedur pelaksanaan menurut Hamilton (2002) adalah sebagai berikut:
a. Mencuci tangannya
b. Mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat
c. Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan ke bawah mengarah ke rectum dan letakkan pembalut tersebut ke dalam kantung plastik.
d. Berkemih dan BAB ke toilet
e. Semprotkan ke seluruh perineum dengan air
f. Keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang.
g. Pasang pembalut dari depan ke belakang.
h. Cuci kembali tangan
3. Evaluasi
Parameter yang digunakan dalam evaluasi hasil perawatan adalah:
a. Perineum tidak lembab
b. Posisi pembalut tepat
c. Ibu merasa nyaman
Faktor yang Mempengaruhi Perawatan Perineum
1. Gizi
Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan sangat membutuhkan protein.
2. Obat-obatan
a. Steroid : Dapat menyamarkan adanya infeksi dengan menggangu respon inflamasi normal.
b. Antikoagulan : Dapat menyebabkan hemoragi.
c. Antibiotik spektrum luas / spesifik : Efektif bila diberikan segera sebelum pembedahan untuk patolagi spesifik atau kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka ditutup, tidak efektif karena koagulasi intrvaskular.
3. Keturunan
Sifat genetik seseorang akan mempengaruhi kemampuan dirinya dalam penyembuhan luka. Salah satu sifat genetik yang mempengaruhi adalah kemampuan dalam sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat. Dapat terjadi penipisan protein-kalori.
4. Sarana prasarana
Kemampuan ibu dalam menyediakan sarana dan prasarana dalam perawatan perineum akan sangat mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kemampuan ibu dalam menyediakan antiseptik.
5. Budaya dan Keyakinan
Budaya dan keyakinan akan mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kebiasaan tarak telur, ikan dan daging ayam, akan mempengaruhi asupan gizi ibu yang akan sangat mempengaruhi penyembuhan luka.
Dampak Dari Perawatan Luka Perinium
Perawatan perineum yang dilakukan dengan baik dapat menghindarkan hal berikut ini :
1. Infeksi
Kondisi perineum yang terkena lokia dan lembab akan sangat menunjang perkembangbiakan bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum.
2. Komplikasi
Munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada saluran kandung kemih ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat pada munculnya komplikasi infeksi kandung kemih maupun infeksi pada jalan lahir.
3. Kematian ibu post partum
Penanganan komplikasi yang lambat dapat menyebabkan terjadinya kematian pada ibu post partum mengingat kondisi fisik ibu post partum masih lemah (Suwiyoga, 2004)
Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang bervariasi banyaknya. Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi, yaitu sumber dan jumlah perdarahan sehingga dapat diatasi.
Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum vagina, servik dan robekan uterus. Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma dan robekan jalan lahir dengan perdarahan yang bersifat arteril atau pecahnya pembuluh darah vena. Untuk dapat menetapkan sumber perdarahan dapat dilakukan dengan pemeriksaan dalam atau spekulum.
Perdarahan karena robekan jalan lahir banyak dijumpai pada pertolongan persalinan. Jika perlukaan hanya mengenai bagian luar (superfisial) saja atuajika perlukaan tersebut idak mengeluarkan darah, biasanya tidak perlu dijahit. Hanya perlukaan yang lebih dalam dimana jaringannya tidak bisa didekatkan dengan baik atau perlukaan yang aktif mengeluarkan darah memerlukan suatu penjahitan.
Tujuan dari pejahitan perlukaan perineum / episiotomi adalah :
1. Untuk mendekatkan jaringan-jaringan agar proses penyembuhan bisa terjadi, proses penyembuhan itu sendiri bukanlah hasil dari penjahitan tersebut tetapi hasil dari pertumbuhan jaringan.
2. Untuk menghentikan perdarahan
Laserasi diklasifikasikan berdasarkan luasnya robekan.
Derajat Satu
Derajat dua Derajat Tiga Derajat Empat
• Mukosa Vagina
• Komisura posterior
• Kulit perineum
• Mukosa Vagina
• Komisura posterior
• Kulit perineum
• Otot perineum
• Mukosa Vagina
• Komisura posterior
• Kulit perineum
• Otot perineum
• Otot sfingter ani
• Mukosa Vagina
• Komisura posterior
• Kulit perineum
• Otot perineum
• Otot sfingter ani
• Dinding depan rektum
Tak perlu dijahit jika tidak ada perdarahan dan aposisi luka baik. Jahit menggunakan teknik yang dijelaskan pada Lampiran 4. Penolong APN tidak dibekali keterampilan untuk reparasi laserasi perineum derajat tiga atau empat. Segera rujuk ke fasilitas rujukan
Gambar 1 : Derajat Laserasi Perineum
Sumber: Midwifery Manual of Maternal Care dan Varney’s Midwifery, edisi ke-3
Langkah-langkah pejahitan robekan perineum
A. Persiapan Alat
1. Siapkan peralatan untuk melakukan penjahitan
- Wadah berisi :
Sarung tnagna, pemegang jarum, jarum jahit, benang jahit, kasa steril, pincet
- Kapas DTT
- Buka spuit sekali pakai 10 ml dari kemasan steril, jatuhkan dalam wadah DTT
- Patahkan ampul lidokain
2. Atur posisi bokong ibu pada posisi litotomi di tepi tempat tidur
3. Pasang kain bersih di bawah bokong ibu
4. Atur lampu sorot atau senter ke arah vulva / perineum ibu
5. Pastikan lengan / tangan tidak memakai perhiasan, cuci tangan dengan sabun dan air mengeliar
6. Pakaian satu sarung tangan DTT pada tangan kanan
7. Ambil spuit dengan tangan yang berasarung tangan, isi tabung suntik dengan lidokain dan letakkan kembali ke dalam wadah DTT
8. Lengkapi pemakaian sarunga tangan pada tangan kiri
9. Bersihkan vulva dan perineum dengan kapas DTT dengan gerakan satu arah dari vulva ke perineum
10. Periksa vagina, servik dan perineum secara lengkap, pastikan bahwa laserasi hanya merupakan derajat satu atau dua.
B. Anestesi Lokal
1. Beritahu ibu tentang apa yang akan dilakukan
2. Tusukkan jarum suntik pada daerah kamisura posterior yaitu bagian sudut bahwa vulva.
3. Lakukan aspirasi untuk memastikan tidak ada darah yang terhisap
4. Suntikan anestesi sambil menarik jarum suntik pada tepi luka daerah perineum
5. Tanpa menarik jarum suntik keluar dari luka arahkan jarum suntik sepanjang luka pada mukosa vagina
6. Lakukan langkah 2-5 diatas pada kedua tepi robekan
7. Tunggu 1-2 menit sebelum melakukan penjahitan
C. Penjahitan Laserasi pada Perineum
1. Buat jahitan pertama kurang lebih 1 cm diatas ujung laserasi di mukosa vagina. Setelah itu buat ikatan dan potong pendek benang dari yang lebih pendek. Sisakan benang kira-kira 1 cm.
2. Tutup mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit ke bawah ke arah cincin himen
3. Tepat sebelum cincin himen, masukkan jarum ke dalam mukosa vagina lalu ke belakang cincin himen sampai jarum ada di bawah laserasi kemudian ditarik keluar pada luka perineum
4. Gunakan teknik jelujur saat menjahit lapisan otot. Lihat kedalam luka untuk mengetahui letak ototnya.
5. Setelah dijahit sampai ujung luka, putarlah jarum dan mulailah menjahit kearah vagina dengan menggunakan jahitan subkutikuler
6. Pidahkan jahitan dari bagian luka perineum kembali ke vagina di belakang cincin hymen untuk diikat dengan simpul mati dan dipotong benangnya
7. Masukkan jari ke dalam rektum
8. Periksa ulang kembali pasa luka
9. Cuci daerah genital dengan lembut kemudian keringkan. Bantu ibu mencari posisi yang diinginkan
10. Nasehatiibu untuk :
a. Menjaga perineum selalu bersih dan kering
b. Hindari penggunaan obat-obatan tradisional pada perineumnya
c. Cuci perineum dengan sabun dan air bersih yang mengalir 3-4 x per hari
d. Kembali dalam seminggu untuk memeriksa luka
D. MACAM – MACAM JAHITAN
A. Jahitan Kulit
1. Jahitan interrupted :
a. Jahitan simple interrupted (Jahitan satu demi satu)
Merupakan jenis jahitan yang paling dikenal dan paling banyak digunakan. Jarak antara jahitan sebanyak 5-7 mm dan batas jahitan dari tepi luka sebaiknya 1-2 mm. Semakin dekat jarak antara tiap jahitan, semakin baik bekas luka setelah penyembuhan.
b. Jahitan Matras
1) Jahitan matras vertikal
Jahitan jenis ini digunakan jika tepi luka tidak bisa dicapai hanya dengan menggunakan jahitan satu demi satu. Misalnya di daerah yang tipis lemak subkutisnya dan tepi satu demi satu. Misalnya di daerah yang tipis lunak subkutisnya dan tepi luka cenderung masuk ke dalam.
2) Jahitan matras horizontal
Jahitan ini digunakan untuk menautkan fasia dan aponeurosis. Jahitan ini tidak boleh digunakan untuk menjahit lemak subkutis karena membuat kulit diatasnya terlihat bergelombang
c. Jahitan Continous
1) Jahitan jelujur : lebih cepat dibuat, lebih kuat dan pembagian tekanannya lebih rata bila dibandingkan dengan jahitan terputus. Kelemahannya jika benang putus / simpul terurai seluruh tepi luka akan terbuka.
2) Jahitan interlocking, feston
3) Jahitan kantung tembakau (tabl sac)
2. Jahitan Subkutis
a. Jahitan continous : jahitan terusan subkutikuler atau intrademal. Digunakan jika ingin dihasilkan hasil yang baik setelah luka sembuh. Juga untuk menurunkan tengan pad aluka yang lebar sebelum dilakukan penjahitan satu demi satu.
b. Jahitan interrupted dermal stitch
3. Jahitan Dalam
Pada luka infeksi misalnya insisi abses, dipasang dren. Dren dapat dibuat dari guntingan sarunga tangan fungsi dren adalah mengelirkan cairan keluar berupa darah atau serum.
B. PERAWATAN LUKA HEATING PERINEUM
a. Penanganan Komplikasi
1. Jika terdapat hematoma, darah dikeluarkan. Jika tidak ada tanda infeksi dan perdarahan sudah berhenti, lakukan penjahitan.
2. Jika terdapat infeksi, buka dan drain luka
- Lalu berikan terapi ampisilin 500 mg per oral 4 x sehari selama 5 hari
- Dan metronidazol 400 mg per oral 3 x sehari selama 5 hari
b. Perawatan Pasca Tindakan
1. Apabila terjadi robekan tingkat IV (Robekan sampai mukosa rektum), berikan anti biotik profilaksis dosis tunggal
c. Ampisilin 500 mg per oral
d. Dan metronidazol 500 mg per oral
2. Observasi tanda-tanda infeksi
3. Jangan lakukan pemeriksaan rektal atau enam selama 2 minggu
4. Berikan pelembut feses selama seminggu per oral
BAB II
ASUHAN KEBIDANAN pada IBU NIFAS NORMAL DENGAN LUKA PERINEUM
PENGUMPULAN DATA DASAR
Tanggal : 4 november 2010 jam : 08.00 WIB
A. Subjektif
1. Anamnesa :
Nama istri : Ny.Y nama suami : Tn. X
Umur : 30 tahun umur : 36 tahun
Agama : islam agama : islam
Suku bangsa : jawa/indonesia suku bangsa : jawa/indonesia
Pendidikan : SD pendidikan : SD
Pekerjaan : swasta pekerjaan : swasta
Penghasilan : - penghasilan : -
Alamat : Ds. Palembon kanor
2. Keluhan utama :
Ibu mengatakan bahwa 4 hari setelah melahirkan anak ke-2 ini, luka jahitan belum kering sehingga terasa nyeri saat di tekan.
3. Riwayat kesehatan yang lalu :
Ibu mengatakan bahwa sebelumnya tidak pernah menderita penyakit menular, keturunan maupun penyakit kronis.
4. Riwayat kesehatan keluarga :
Ibu mengatakan bahwa dalam keluarga ibu dan suami tidak ada yang menderita penyakit menular, keturunan maupun penyakit kronis
5. Riwayat haid :
Menarche : 14 tahun
Siklus : teratur, 28-30 hari
Lama : 6-7 hari
Karakteristik : merah kehitaman, encer
Dismenorhoe : -
Dysfungsiblooding : -
Fluoralbus : 2 hari sebelum dan sesudah haid
HPHT : 24 januari 2010
TTP : 31 oktober 2010
6. Riwayat perkawinan :
Nikah : 1 kali
Lama : 3 tahun
Usia nikah : 25 tahun
7. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu :
Hamil ke BBL
(gram) penolong Cara / partus Keadaan bayi Jenis kelamin uri komplikasi nifas
No. Usia anak
1.
2. 39 minggu
38 minggu 25oo gram
2600 gram Bidan
bidan Spontan
spontan Baik
baik Perempuan
Laki-laki Lengkap
Lengkap Luka perineum
Luka perineum Normal
Normal
8. A. Riwayat kehamilan sekarang :
Trimester I : Pada usia kehamilan 1-3 bulan periksa ke polindes rutin 3 kali, mengatakan mual dan muntah, mendapat tablet Fe 60 tablet dan TT1
Trimester II : ANC 2 X di BPS, merasakan gerakan janin pada umur 5 bulan kehamilan, mendapat tablet Fe 30 tablet, kalk dan TT2
Trimester III : ANC 2 X di BPS, mengatakan kenceng-kenceng
B. Riwayat persalinan :
Kala 1 : ibu mengatakan keluar lendir dan darah, perut terasa kenceng-kenceng dari jam 21.00 sampai jam 06.00 pagi
Kala 2 : ibu mengatakan bayinya lahir sekitar jam 07.00 pagi
Kala 3 : setelah bayinya lahir, jarak ± 15 menit plasenta keluar dan tidak lama kemudian dilakukan penjahitan
C. Riwayat nifas :
6 jam pertama setelah melahirkan, ibu tidak mengalami perdarahan tetapi badannya masih lemas dan merasa nyeri pada luka jahitan.
9. Riwayat KB :
Ibu mengatakan tidak pernah mengikuti progam KB sebelumnya, dan ibu akan mengikuti progam KB setelah melahirkan ini.
10. Pola kebiasaan sehari-hari :
No . Pola Sebelum bersalin Setelah bersalin
1. Nutrisi Makan 3 X sehari, porsi sedang, minum ± 6-8 gelas/hari, air putih + susu Makan 3 X sehari, porsi banyak minum ± 8 gelas/hari, air putih
2. Eliminasi BAB : 2 x sehari
BAK : 4 x sehari BAB : 1 x sehari
BAK : 3 x sehari
3. Istirahat Siang : ± 1 jam
Malam : 7 jam Siang : ± 1 jam
Malam : ± 6 jam
4. Kebersihan Mandi 3 x sehari, ganti baju 2 x sehari, gosok gigi 3 x sehari, keramas 3 x/ minggu Mandi 2 x sehari, ganti baju 2 x sehari, gosok gigi 3 x sehari, keramas 3 x/ minggu, merawat perineum 2 x sehari, ganti pembalut 3 x sehari.
5. Aktifitas Memasak, mencucu, membersihkan rumah, mengurus kebutuhan keluarga. Ibu hanya merawat bayinya dirumah
6. Seksual 1 x seminggu Tidak pernah
7. Kebiasaan yang mengganggu Ibu tidak merokok, minum minuman beralkohol, dan tidak minum jamu tradisional Ibu tidak merokok, minum minuman beralkohol, dan tidak minum jamu tradisional
8. Rekreasi Menonton TV Menonton TV
11. Data psikososial :
Psiko : ibu, suami, maupun keluarga menerima kelahiran anak yang pertama ini dengan senang hati dan ibu berharap anaknya sehat dan dapat meneteki dengan baik
Social : hubungan antara ibu, keluarga dan tetangga sangat baik, sehingga selalu memberi dukungan pada ibu.
12. Latar belakang sosial budaya :
Ibu berasal dari suku jawa asli, dan ibu masih mengenal acara selamaan atau bulanan dan selamatan setelah lahir, ibu masih menganutnpantangan terhadap makanan tertentu.
13. Data spiritual :
Ibu dan keluarga menganut agama islam dan taan beribadah.
D. Obyektif
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum :baik TTV :
kesadaran : compos mentis Tekanan darah : 120/80 mmHg
BB : 67 kg Nadi : 80 x / menit
TB :160 cm Suhu : 374 0C
Respirasi : 20 x /menit
2. Pemeriksaan khusus
a. Inspeksi
Kepala : kulit kepala bersih
Rambut : hitam bersih, tidak ada ketombe, tidak rontok
Muka : tidak ada kloasma gravidarum, klien tampak kesakitan
Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera putih
Telinga :bersih, tidak ada serumen
Hidung : bersih, tidak ada polip
Mulut : bersih, tidak ada lubang dan tidak ada karies gigi
Leher : tidak ada pembesaan kelenjar tyroid
Dada : mammae membesar, terdapat hiperpigmentasi pada areola mammae, putting susu menonjol, ASI keluar dengan lancar
Perut : kontraksi baik, involusi berjalan normal
Genetalia : vulva : oedem, mengeluarkan sedikit darah
Perineum : terdapat luka jahitan, darah disekitar luka berwarna kemerahan
Anus : tidak ada hemoroid
Ekstremitas : sedikit oedem, tidak ada varises
b. Palpasi
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
Dada : payudara tidak ada benjolan, ASI sudah keluar
Perut : TFU 3 jari dibawah pusat
Ekstremitas : teraba panas pada anggota gerak bawah ibu
Genetalia : perineum : bila ditekan terasa nyeri, dan daerah sekitar luka terasa panas
c. Perkusi
Abdomen : tidak ada meteorismus
Patella : ka/ki (+)/(+)
d. Pemeriksaan penunjang :
Darah Hb : 10 g%
III. Analisa Data
Diagnosa : lahir spontan, usia kehamilan 39 minggu, telah post partum hari ke 4 dengan keluhan nyeri pada luka perineum.
Masalah : nyeri pada luka perineum
Kebutuhan : 1. berikan penyuluhan pada ibu
2. Lakukan perawatan perineum setiap hari secara benar
3. Menjaga hygienitas
IV. kebutuhan Segera
Dilakukan perawatan secara intensif
Diberikan obat antibiotic dan analgesic
V. INTERVENSI
1. Lakukan pendekatan pada klien
R : agar pasien lebih kooperatif, dan memudahkan dalam menjalankan tindakan
2. Jelaskan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan
R : agar ibu dapat mengetahui mengenai keadaannya saat ini
3. Anjurkan pada ibu untuk merawat luka perineum dengan cara yang benar.
R : agar dapat mempercepat penyembuhan, dan ibu dapat melakukannya sendiri di rumah
VI. IMPLEMENTASI
1. Melakukan pendekatan pada klien,agar pasien lebih kooperatif, dan memudahkan dalam menjalankan tindakan
2. Menjelaskan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan, supaya ibu mengetahui akan keadaannya.
3. Menganjurkan pada ibu untuk merawat luka perineum dengan benar yaitu :
Anjurkan kebersihan seluruh tubuh
Mengajarkan ibu tentang bagaimana cara membersihkan darah disekitar vulva terlebih yaitu dahulu dari depan ke belakang, baru kemidin membersihkan daerah sekitar anus
Sarankan pada ibu untuk mengganti pembalut/kain pembalut minimal 2 x sehari, ataupun kain dapat digunakan ulang bila telah dicuci bersih dan dikeringkan dibawah sinar matahari dan juga telah di setrika.
Sarankan pada ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kewanitaan.
Jika ibu mempunyai luka episiotomy/laserasi, saankan pada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka.
VII. EVALUASI
Ibu sudah mengerti penjelasan yang diberikan oleh bidan dan ibu dapat menjawab peryanyaan yang diajukan bidan pada ibu serta dapat mempraktekkannya.
Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz, 2004). Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus (Danis, 2000). Post Partum adalah selang waktu antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil (Mochtar, 2002). Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.
Tujuan Perawatan Perineum
Tujuan perawatan perineum menurut Hamilton (2002), adalah mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan.
Sedangkan menurut Moorhouse et. al. (2001), adalah pencegahan terjadinya infeksi pada saluran reproduksi yang terjadi dalam 28 hari setelah kelahiran anak atau aborsi.
Bentuk Luka Perineum
Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu :
1. Rupture
Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan. (Hamilton, 2002).
2. Episotomi
Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi (Eisenberg, A., 1996).
Episiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anestasi lokal, kecuali bila pasien sudah diberi anestasi epiderual. Insisi episiotomi dapat dilakukan di garis tengah atau mediolateral. Insisi garis tengah mempunyai keuntungan karena tidak banyak pembuluh darah besar dijumpai disini dan daerah ini lebih mudah diperbaiki (Jones Derek, 2002).
Pada gambar berikut ini dijelaskan tipe episotomi dan rupture yang sering dijumpai dalam proses persalinan yaitu :
1. Episiotomi medial
2. Episiotomi mediolateral
Sedangkan rupture meliputi
1. Tuberositas ischii
2. Arteri pudenda interna
3. Arteri rektalis inferior
Gambar 1. Tipe-Tipe Episiotomi
Lingkup Perawatan
Lingkup perawatan perineum ditujukan untuk pencegahan infeksi organ-organ reproduksi yang disebabkan oleh masuknya mikroorganisme yang masuk melalui vulva yang terbuka atau akibat dari perkembangbiakan bakteri pada peralatan penampung lochea (pembalut) (Feerer, 2001).
Sedangkan menurut Hamilton (2002), lingkup perawatan perineum adalah
1. Mencegah kontaminasi dari rektum
2. Menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma
3. Bersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau.
Waktu Perawatan
Menurut Feerer (2001), waktu perawatan perineum adalah
1. Saat mandi
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
2. Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi kontaminasi air seni padarektum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
3. Setelah buang air besar.
Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum secara keseluruhan.
Penatalaksanaan
1. Persiapan
a. Ibu Pos Partum
Perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi dengan posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki terbuka.
b. Alat dan bahan
Alat yang digunakan adalah botol, baskom dan gayung atau shower air hangat dan handuk bersih. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air hangat, pembalut nifas baru dan antiseptik (Fereer, 2001).
2. Penatalaksanaan
Perawatan khusus perineal bagi wanita setelah melahirkan anak mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan dengan prosedur pelaksanaan menurut Hamilton (2002) adalah sebagai berikut:
a. Mencuci tangannya
b. Mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat
c. Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan ke bawah mengarah ke rectum dan letakkan pembalut tersebut ke dalam kantung plastik.
d. Berkemih dan BAB ke toilet
e. Semprotkan ke seluruh perineum dengan air
f. Keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang.
g. Pasang pembalut dari depan ke belakang.
h. Cuci kembali tangan
3. Evaluasi
Parameter yang digunakan dalam evaluasi hasil perawatan adalah:
a. Perineum tidak lembab
b. Posisi pembalut tepat
c. Ibu merasa nyaman
Faktor yang Mempengaruhi Perawatan Perineum
1. Gizi
Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan sangat membutuhkan protein.
2. Obat-obatan
a. Steroid : Dapat menyamarkan adanya infeksi dengan menggangu respon inflamasi normal.
b. Antikoagulan : Dapat menyebabkan hemoragi.
c. Antibiotik spektrum luas / spesifik : Efektif bila diberikan segera sebelum pembedahan untuk patolagi spesifik atau kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka ditutup, tidak efektif karena koagulasi intrvaskular.
3. Keturunan
Sifat genetik seseorang akan mempengaruhi kemampuan dirinya dalam penyembuhan luka. Salah satu sifat genetik yang mempengaruhi adalah kemampuan dalam sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat. Dapat terjadi penipisan protein-kalori.
4. Sarana prasarana
Kemampuan ibu dalam menyediakan sarana dan prasarana dalam perawatan perineum akan sangat mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kemampuan ibu dalam menyediakan antiseptik.
5. Budaya dan Keyakinan
Budaya dan keyakinan akan mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kebiasaan tarak telur, ikan dan daging ayam, akan mempengaruhi asupan gizi ibu yang akan sangat mempengaruhi penyembuhan luka.
Dampak Dari Perawatan Luka Perinium
Perawatan perineum yang dilakukan dengan baik dapat menghindarkan hal berikut ini :
1. Infeksi
Kondisi perineum yang terkena lokia dan lembab akan sangat menunjang perkembangbiakan bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum.
2. Komplikasi
Munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada saluran kandung kemih ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat pada munculnya komplikasi infeksi kandung kemih maupun infeksi pada jalan lahir.
3. Kematian ibu post partum
Penanganan komplikasi yang lambat dapat menyebabkan terjadinya kematian pada ibu post partum mengingat kondisi fisik ibu post partum masih lemah (Suwiyoga, 2004)
Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang bervariasi banyaknya. Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi, yaitu sumber dan jumlah perdarahan sehingga dapat diatasi.
Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum vagina, servik dan robekan uterus. Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma dan robekan jalan lahir dengan perdarahan yang bersifat arteril atau pecahnya pembuluh darah vena. Untuk dapat menetapkan sumber perdarahan dapat dilakukan dengan pemeriksaan dalam atau spekulum.
Perdarahan karena robekan jalan lahir banyak dijumpai pada pertolongan persalinan. Jika perlukaan hanya mengenai bagian luar (superfisial) saja atuajika perlukaan tersebut idak mengeluarkan darah, biasanya tidak perlu dijahit. Hanya perlukaan yang lebih dalam dimana jaringannya tidak bisa didekatkan dengan baik atau perlukaan yang aktif mengeluarkan darah memerlukan suatu penjahitan.
Tujuan dari pejahitan perlukaan perineum / episiotomi adalah :
1. Untuk mendekatkan jaringan-jaringan agar proses penyembuhan bisa terjadi, proses penyembuhan itu sendiri bukanlah hasil dari penjahitan tersebut tetapi hasil dari pertumbuhan jaringan.
2. Untuk menghentikan perdarahan
Laserasi diklasifikasikan berdasarkan luasnya robekan.
Derajat Satu
Derajat dua Derajat Tiga Derajat Empat
• Mukosa Vagina
• Komisura posterior
• Kulit perineum
• Mukosa Vagina
• Komisura posterior
• Kulit perineum
• Otot perineum
• Mukosa Vagina
• Komisura posterior
• Kulit perineum
• Otot perineum
• Otot sfingter ani
• Mukosa Vagina
• Komisura posterior
• Kulit perineum
• Otot perineum
• Otot sfingter ani
• Dinding depan rektum
Tak perlu dijahit jika tidak ada perdarahan dan aposisi luka baik. Jahit menggunakan teknik yang dijelaskan pada Lampiran 4. Penolong APN tidak dibekali keterampilan untuk reparasi laserasi perineum derajat tiga atau empat. Segera rujuk ke fasilitas rujukan
Gambar 1 : Derajat Laserasi Perineum
Sumber: Midwifery Manual of Maternal Care dan Varney’s Midwifery, edisi ke-3
Langkah-langkah pejahitan robekan perineum
A. Persiapan Alat
1. Siapkan peralatan untuk melakukan penjahitan
- Wadah berisi :
Sarung tnagna, pemegang jarum, jarum jahit, benang jahit, kasa steril, pincet
- Kapas DTT
- Buka spuit sekali pakai 10 ml dari kemasan steril, jatuhkan dalam wadah DTT
- Patahkan ampul lidokain
2. Atur posisi bokong ibu pada posisi litotomi di tepi tempat tidur
3. Pasang kain bersih di bawah bokong ibu
4. Atur lampu sorot atau senter ke arah vulva / perineum ibu
5. Pastikan lengan / tangan tidak memakai perhiasan, cuci tangan dengan sabun dan air mengeliar
6. Pakaian satu sarung tangan DTT pada tangan kanan
7. Ambil spuit dengan tangan yang berasarung tangan, isi tabung suntik dengan lidokain dan letakkan kembali ke dalam wadah DTT
8. Lengkapi pemakaian sarunga tangan pada tangan kiri
9. Bersihkan vulva dan perineum dengan kapas DTT dengan gerakan satu arah dari vulva ke perineum
10. Periksa vagina, servik dan perineum secara lengkap, pastikan bahwa laserasi hanya merupakan derajat satu atau dua.
B. Anestesi Lokal
1. Beritahu ibu tentang apa yang akan dilakukan
2. Tusukkan jarum suntik pada daerah kamisura posterior yaitu bagian sudut bahwa vulva.
3. Lakukan aspirasi untuk memastikan tidak ada darah yang terhisap
4. Suntikan anestesi sambil menarik jarum suntik pada tepi luka daerah perineum
5. Tanpa menarik jarum suntik keluar dari luka arahkan jarum suntik sepanjang luka pada mukosa vagina
6. Lakukan langkah 2-5 diatas pada kedua tepi robekan
7. Tunggu 1-2 menit sebelum melakukan penjahitan
C. Penjahitan Laserasi pada Perineum
1. Buat jahitan pertama kurang lebih 1 cm diatas ujung laserasi di mukosa vagina. Setelah itu buat ikatan dan potong pendek benang dari yang lebih pendek. Sisakan benang kira-kira 1 cm.
2. Tutup mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit ke bawah ke arah cincin himen
3. Tepat sebelum cincin himen, masukkan jarum ke dalam mukosa vagina lalu ke belakang cincin himen sampai jarum ada di bawah laserasi kemudian ditarik keluar pada luka perineum
4. Gunakan teknik jelujur saat menjahit lapisan otot. Lihat kedalam luka untuk mengetahui letak ototnya.
5. Setelah dijahit sampai ujung luka, putarlah jarum dan mulailah menjahit kearah vagina dengan menggunakan jahitan subkutikuler
6. Pidahkan jahitan dari bagian luka perineum kembali ke vagina di belakang cincin hymen untuk diikat dengan simpul mati dan dipotong benangnya
7. Masukkan jari ke dalam rektum
8. Periksa ulang kembali pasa luka
9. Cuci daerah genital dengan lembut kemudian keringkan. Bantu ibu mencari posisi yang diinginkan
10. Nasehatiibu untuk :
a. Menjaga perineum selalu bersih dan kering
b. Hindari penggunaan obat-obatan tradisional pada perineumnya
c. Cuci perineum dengan sabun dan air bersih yang mengalir 3-4 x per hari
d. Kembali dalam seminggu untuk memeriksa luka
D. MACAM – MACAM JAHITAN
A. Jahitan Kulit
1. Jahitan interrupted :
a. Jahitan simple interrupted (Jahitan satu demi satu)
Merupakan jenis jahitan yang paling dikenal dan paling banyak digunakan. Jarak antara jahitan sebanyak 5-7 mm dan batas jahitan dari tepi luka sebaiknya 1-2 mm. Semakin dekat jarak antara tiap jahitan, semakin baik bekas luka setelah penyembuhan.
b. Jahitan Matras
1) Jahitan matras vertikal
Jahitan jenis ini digunakan jika tepi luka tidak bisa dicapai hanya dengan menggunakan jahitan satu demi satu. Misalnya di daerah yang tipis lemak subkutisnya dan tepi satu demi satu. Misalnya di daerah yang tipis lunak subkutisnya dan tepi luka cenderung masuk ke dalam.
2) Jahitan matras horizontal
Jahitan ini digunakan untuk menautkan fasia dan aponeurosis. Jahitan ini tidak boleh digunakan untuk menjahit lemak subkutis karena membuat kulit diatasnya terlihat bergelombang
c. Jahitan Continous
1) Jahitan jelujur : lebih cepat dibuat, lebih kuat dan pembagian tekanannya lebih rata bila dibandingkan dengan jahitan terputus. Kelemahannya jika benang putus / simpul terurai seluruh tepi luka akan terbuka.
2) Jahitan interlocking, feston
3) Jahitan kantung tembakau (tabl sac)
2. Jahitan Subkutis
a. Jahitan continous : jahitan terusan subkutikuler atau intrademal. Digunakan jika ingin dihasilkan hasil yang baik setelah luka sembuh. Juga untuk menurunkan tengan pad aluka yang lebar sebelum dilakukan penjahitan satu demi satu.
b. Jahitan interrupted dermal stitch
3. Jahitan Dalam
Pada luka infeksi misalnya insisi abses, dipasang dren. Dren dapat dibuat dari guntingan sarunga tangan fungsi dren adalah mengelirkan cairan keluar berupa darah atau serum.
B. PERAWATAN LUKA HEATING PERINEUM
a. Penanganan Komplikasi
1. Jika terdapat hematoma, darah dikeluarkan. Jika tidak ada tanda infeksi dan perdarahan sudah berhenti, lakukan penjahitan.
2. Jika terdapat infeksi, buka dan drain luka
- Lalu berikan terapi ampisilin 500 mg per oral 4 x sehari selama 5 hari
- Dan metronidazol 400 mg per oral 3 x sehari selama 5 hari
b. Perawatan Pasca Tindakan
1. Apabila terjadi robekan tingkat IV (Robekan sampai mukosa rektum), berikan anti biotik profilaksis dosis tunggal
c. Ampisilin 500 mg per oral
d. Dan metronidazol 500 mg per oral
2. Observasi tanda-tanda infeksi
3. Jangan lakukan pemeriksaan rektal atau enam selama 2 minggu
4. Berikan pelembut feses selama seminggu per oral
BAB II
ASUHAN KEBIDANAN pada IBU NIFAS NORMAL DENGAN LUKA PERINEUM
PENGUMPULAN DATA DASAR
Tanggal : 4 november 2010 jam : 08.00 WIB
A. Subjektif
1. Anamnesa :
Nama istri : Ny.Y nama suami : Tn. X
Umur : 30 tahun umur : 36 tahun
Agama : islam agama : islam
Suku bangsa : jawa/indonesia suku bangsa : jawa/indonesia
Pendidikan : SD pendidikan : SD
Pekerjaan : swasta pekerjaan : swasta
Penghasilan : - penghasilan : -
Alamat : Ds. Palembon kanor
2. Keluhan utama :
Ibu mengatakan bahwa 4 hari setelah melahirkan anak ke-2 ini, luka jahitan belum kering sehingga terasa nyeri saat di tekan.
3. Riwayat kesehatan yang lalu :
Ibu mengatakan bahwa sebelumnya tidak pernah menderita penyakit menular, keturunan maupun penyakit kronis.
4. Riwayat kesehatan keluarga :
Ibu mengatakan bahwa dalam keluarga ibu dan suami tidak ada yang menderita penyakit menular, keturunan maupun penyakit kronis
5. Riwayat haid :
Menarche : 14 tahun
Siklus : teratur, 28-30 hari
Lama : 6-7 hari
Karakteristik : merah kehitaman, encer
Dismenorhoe : -
Dysfungsiblooding : -
Fluoralbus : 2 hari sebelum dan sesudah haid
HPHT : 24 januari 2010
TTP : 31 oktober 2010
6. Riwayat perkawinan :
Nikah : 1 kali
Lama : 3 tahun
Usia nikah : 25 tahun
7. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu :
Hamil ke BBL
(gram) penolong Cara / partus Keadaan bayi Jenis kelamin uri komplikasi nifas
No. Usia anak
1.
2. 39 minggu
38 minggu 25oo gram
2600 gram Bidan
bidan Spontan
spontan Baik
baik Perempuan
Laki-laki Lengkap
Lengkap Luka perineum
Luka perineum Normal
Normal
8. A. Riwayat kehamilan sekarang :
Trimester I : Pada usia kehamilan 1-3 bulan periksa ke polindes rutin 3 kali, mengatakan mual dan muntah, mendapat tablet Fe 60 tablet dan TT1
Trimester II : ANC 2 X di BPS, merasakan gerakan janin pada umur 5 bulan kehamilan, mendapat tablet Fe 30 tablet, kalk dan TT2
Trimester III : ANC 2 X di BPS, mengatakan kenceng-kenceng
B. Riwayat persalinan :
Kala 1 : ibu mengatakan keluar lendir dan darah, perut terasa kenceng-kenceng dari jam 21.00 sampai jam 06.00 pagi
Kala 2 : ibu mengatakan bayinya lahir sekitar jam 07.00 pagi
Kala 3 : setelah bayinya lahir, jarak ± 15 menit plasenta keluar dan tidak lama kemudian dilakukan penjahitan
C. Riwayat nifas :
6 jam pertama setelah melahirkan, ibu tidak mengalami perdarahan tetapi badannya masih lemas dan merasa nyeri pada luka jahitan.
9. Riwayat KB :
Ibu mengatakan tidak pernah mengikuti progam KB sebelumnya, dan ibu akan mengikuti progam KB setelah melahirkan ini.
10. Pola kebiasaan sehari-hari :
No . Pola Sebelum bersalin Setelah bersalin
1. Nutrisi Makan 3 X sehari, porsi sedang, minum ± 6-8 gelas/hari, air putih + susu Makan 3 X sehari, porsi banyak minum ± 8 gelas/hari, air putih
2. Eliminasi BAB : 2 x sehari
BAK : 4 x sehari BAB : 1 x sehari
BAK : 3 x sehari
3. Istirahat Siang : ± 1 jam
Malam : 7 jam Siang : ± 1 jam
Malam : ± 6 jam
4. Kebersihan Mandi 3 x sehari, ganti baju 2 x sehari, gosok gigi 3 x sehari, keramas 3 x/ minggu Mandi 2 x sehari, ganti baju 2 x sehari, gosok gigi 3 x sehari, keramas 3 x/ minggu, merawat perineum 2 x sehari, ganti pembalut 3 x sehari.
5. Aktifitas Memasak, mencucu, membersihkan rumah, mengurus kebutuhan keluarga. Ibu hanya merawat bayinya dirumah
6. Seksual 1 x seminggu Tidak pernah
7. Kebiasaan yang mengganggu Ibu tidak merokok, minum minuman beralkohol, dan tidak minum jamu tradisional Ibu tidak merokok, minum minuman beralkohol, dan tidak minum jamu tradisional
8. Rekreasi Menonton TV Menonton TV
11. Data psikososial :
Psiko : ibu, suami, maupun keluarga menerima kelahiran anak yang pertama ini dengan senang hati dan ibu berharap anaknya sehat dan dapat meneteki dengan baik
Social : hubungan antara ibu, keluarga dan tetangga sangat baik, sehingga selalu memberi dukungan pada ibu.
12. Latar belakang sosial budaya :
Ibu berasal dari suku jawa asli, dan ibu masih mengenal acara selamaan atau bulanan dan selamatan setelah lahir, ibu masih menganutnpantangan terhadap makanan tertentu.
13. Data spiritual :
Ibu dan keluarga menganut agama islam dan taan beribadah.
D. Obyektif
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum :baik TTV :
kesadaran : compos mentis Tekanan darah : 120/80 mmHg
BB : 67 kg Nadi : 80 x / menit
TB :160 cm Suhu : 374 0C
Respirasi : 20 x /menit
2. Pemeriksaan khusus
a. Inspeksi
Kepala : kulit kepala bersih
Rambut : hitam bersih, tidak ada ketombe, tidak rontok
Muka : tidak ada kloasma gravidarum, klien tampak kesakitan
Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera putih
Telinga :bersih, tidak ada serumen
Hidung : bersih, tidak ada polip
Mulut : bersih, tidak ada lubang dan tidak ada karies gigi
Leher : tidak ada pembesaan kelenjar tyroid
Dada : mammae membesar, terdapat hiperpigmentasi pada areola mammae, putting susu menonjol, ASI keluar dengan lancar
Perut : kontraksi baik, involusi berjalan normal
Genetalia : vulva : oedem, mengeluarkan sedikit darah
Perineum : terdapat luka jahitan, darah disekitar luka berwarna kemerahan
Anus : tidak ada hemoroid
Ekstremitas : sedikit oedem, tidak ada varises
b. Palpasi
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
Dada : payudara tidak ada benjolan, ASI sudah keluar
Perut : TFU 3 jari dibawah pusat
Ekstremitas : teraba panas pada anggota gerak bawah ibu
Genetalia : perineum : bila ditekan terasa nyeri, dan daerah sekitar luka terasa panas
c. Perkusi
Abdomen : tidak ada meteorismus
Patella : ka/ki (+)/(+)
d. Pemeriksaan penunjang :
Darah Hb : 10 g%
III. Analisa Data
Diagnosa : lahir spontan, usia kehamilan 39 minggu, telah post partum hari ke 4 dengan keluhan nyeri pada luka perineum.
Masalah : nyeri pada luka perineum
Kebutuhan : 1. berikan penyuluhan pada ibu
2. Lakukan perawatan perineum setiap hari secara benar
3. Menjaga hygienitas
IV. kebutuhan Segera
Dilakukan perawatan secara intensif
Diberikan obat antibiotic dan analgesic
V. INTERVENSI
1. Lakukan pendekatan pada klien
R : agar pasien lebih kooperatif, dan memudahkan dalam menjalankan tindakan
2. Jelaskan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan
R : agar ibu dapat mengetahui mengenai keadaannya saat ini
3. Anjurkan pada ibu untuk merawat luka perineum dengan cara yang benar.
R : agar dapat mempercepat penyembuhan, dan ibu dapat melakukannya sendiri di rumah
VI. IMPLEMENTASI
1. Melakukan pendekatan pada klien,agar pasien lebih kooperatif, dan memudahkan dalam menjalankan tindakan
2. Menjelaskan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan, supaya ibu mengetahui akan keadaannya.
3. Menganjurkan pada ibu untuk merawat luka perineum dengan benar yaitu :
Anjurkan kebersihan seluruh tubuh
Mengajarkan ibu tentang bagaimana cara membersihkan darah disekitar vulva terlebih yaitu dahulu dari depan ke belakang, baru kemidin membersihkan daerah sekitar anus
Sarankan pada ibu untuk mengganti pembalut/kain pembalut minimal 2 x sehari, ataupun kain dapat digunakan ulang bila telah dicuci bersih dan dikeringkan dibawah sinar matahari dan juga telah di setrika.
Sarankan pada ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kewanitaan.
Jika ibu mempunyai luka episiotomy/laserasi, saankan pada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka.
VII. EVALUASI
Ibu sudah mengerti penjelasan yang diberikan oleh bidan dan ibu dapat menjawab peryanyaan yang diajukan bidan pada ibu serta dapat mempraktekkannya.
Makalah tentang luka bakar
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI LUKA BAKAR
A. Luka bakar (combustio/burn)
adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak langsung atau terpapar dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik (electrict), zat kimia (chemycal), atau radiasi (radiation) .
Luka bakar merupakan bahaya yang potensil terjadi di setiap rumah tangga; banyak laporan menunjukkan, luka bakar oleh karena air panas/cairan panas adalah jenis yang paling sering terjadi pada anak. Bayi dan anak kecil lebih rentan terkena sebab rasa ingin tahu yang besar serta kulit mereka yang sangat sensitif.
Luka bakar yang kecil biasanya dapat ditangani dengan aman di rumah, tapi luka bakar yang cukup luas tentu saja memerlukan perawatan medis. Yang penting ialah melakukan tindakan pencegahan sederhana di rumah.
B. Tersiram air panas
Lepuh disebabkan oleh cairan panas dan menyebabkan kerusakan pada bagian epidermis saja, dengan pembentukan vsikel berisi air dan pengelupasan kulit. Namun anak yang masih kecil kadang mengalami keusakan seluruh ketebalan kulit akibat lepuh minor. Ada alasan kuat yang membatasi suhu maksimum air panas dirumah hanya sampai 54o C (129o F). kebanyakan lepuh terjadi di dapur : orang tua harus diberi tahu untuk menggunakan ketel listrik dengan gulungan lengkungan kawat pendek yang menurunkan risiko anak meraih dan ,menarik ketel.
2.2 ETIOLOGI
Berikut ini beberapa zat yang dapat menyebabkan cidera bakar.
Api
Cairan panas : Gula cair, air panas, minyak
Benda padat panas: : Setrika, rokok, peralatan panas
Uap panas : Uap air panas
Bahan kimia :Air aki
LIstrik
Petir
Radiasi : Sinar matahari
2.3 KLASIFIKASI LUKA BAKAR
Beberapa faktor yang mempengaruhi berat-ringannya injuri luka bakar antara lain kedalaman luka bakar, luas luka bakar, lokasi luka bakar, kesehatan umum, mekanisme injuri dan usia. Berikut ini akan dijelaskan sekilas tentang faktor-faktor tersebut di atas:
A. Kedalaman luka bakar
Kedalaman luka bakar dapat dibagi ke dalam 4 kategori (lihat tabel 3) yang didasarkan pada elemen kulit yang rusak.
1. Superficial (derajat I), dengan ciri-ciri sbb:
• Hanya mengenai lapisan epidermis.
• Luka tampak pink cerah sampai merah (eritema ringan sampai berat).
• Kulit memucat bila ditekan.
• Edema minimal.
• Tidak ada blister.
• Kulit hangat/kering.
• Nyeri / hyperethetic
• Nyeri berkurang dengan pendinginan.
• Discomfort berakhir kira-kira dalam waktu 48 jam.
• Dapat sembuh spontan dalam 3-7 hari.
2. Partial thickness (derajat II), dengan ciri sbb.:
• Partial tihckness dikelompokan menjadi 2, yaitu superpicial partial thickness dan deep partial thickness.
• Mengenai epidermis dan dermis.
• Luka tampak merah sampai pink
• Terbentuk blister
• Edema
• Nyeri
• Sensitif terhadap udara dingin
• Penyembuhan luka :
Superficial partial thickness : 14 - 21 hari
Deep partial thickness : 21 - 28 hari
(Namun demikian penyembuhannya bervariasi tergantung dari kedalaman dan ada tidaknya infeksi).
3. Full thickness (derajat III)
• Mengenai semua lapisan kulit, lemak subcutan dan dapat juga mengenai permukaan otot, dan persarafan dan pembuluh darah.
• Luka tampak bervariasi dari berwarna putih, merah sampai dengan coklat atau hitam.
• Tanpa ada blister.
• Permukaan luka kering dengan tektur kasar/keras.
• Edema.
• Sedikit nyeri atau bahkan tidak ada rasa nyeri.
• Tidak mungkin terjadi penyembuhan luka secara spontan.
• Memerlukan skin graft.
• Dapat terjadi scar hipertropik dan kontraktur jika tidak dilakukan tindakan preventif.
4. Fourth degree (derajat IV)
Mengenai semua lapisan kulit, otot dan tulang.
B. Luas luka bakar
Terdapat beberapa metode untuk menentukan luas luka bakar meliputi
(1) rule of nine,
(2) Lund and Browder
(3) hand palm.
Ukuran luka bakar dapat ditentukan dengan menggunakan salah satu dari metode tersebut. Ukuran luka bakar ditentukan dengan prosentase dari permukaan tubuh yang terkena luka bakar. Akurasi dari perhitungan bervariasi menurut metode yang digunakan dan pengalaman seseorang dalam menentukan luas luka bakar.
Metode rule of nine mulai diperkenalkan sejak tahun 1940-an sebagai suatu alat pengkajian yang cepat untuk menentukan perkiraan ukuran / luas luka bakar. Dasar dari metode ini adalah bahwa tubuh di bagi kedalam bagian-bagian anatomic, dimana setiap bagian mewakili 9 % kecuali daerah genitalia 1 % .
Pada metode Lund and Browder merupakan modifikasi dari persentasi bagian-bagian tubuh menurut usia, yang dapat memberikan perhitungan yang lebih akurat tentang luas luka bakar .
Selain dari kedua metode tersebut di atas, dapat juga digunakan cara lainnya yaitu mengunakan metode hand palm. Metode ini adalah cara menentukan luas atau persentasi luka bakar dengan menggunakan telapak tangan. Satu telapak tangan mewakili 1 % dari permukaan tubuh yang mengalami luka bakar.
Gambar derajat panas :
2.4 MANIFESTASI KLINIK
Gejala yang tampak bila mengalami cedera bakar dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Cedera bakar ringan
Cedera bakar hanya mengenai sebagian kecil permukaan tubuh dan tidak mengenai wajah dan kemaluan anak.
Tanda : terasa perih dan panas, kulit merah
2. Cedera bakar sedang
Cedera bakar mengenai hamper separo permukaan kulit, kecuali wajah dan kemaluan anak.
Tanda : terasa sakit bahka mati rasa karena urat saraf rusak, kulit melepuh.
3. Cedera bakar berat
Cedera bakar mengenai sebagian besar permukaan tubuh terasuk wajah dan kemaluan anak.
Tanda :
a) Kulit terasa sakit / nyeri
b) Kulit gosong dan melepuh
c) Gelisah sera kesadaran menurun
d) Bila terbakar karena tersambar petir atau sengatan lirtrik, timbul sesak nafas bahkan denyut jantung dapat berhenti
e) Bila Cedera bakar mengenai mata akibat terpercik oleh api pengelas, air api, soda api selain nyeri, mata akan mengucurka air, bola mata merah, kelopak mata sangat bengkak, dan sensitive terhadap sinar.
2.5 MANAJEMEN PERAWATAN LUKA BAKAR
A. PRE HOSPITAL
Seorang yang sedang terbakar akan merasa panik, dan akan belari untuk mencari air. Hal ini akan sebaliknya akan memperbesar kobaran api karena tertiup oleh angin. Oleh karena itu, segeralah hentikan (stop), jatuhkan (drop), dan gulingkan (roll) orang itu agar api segera padam. Bila memiliki karung basah, segera gunakan air atau bahan kain basah untuk memadamkan apinya. Sedanguntuk kasus luka bakar karena bahan kimia atau benda dingin, segera basuh dan jauhkan bahan kimia atau benda dingin. Matika sumber listrik dan bawa orang yang mengalami luka bakar dengan menggunakan selimut basah pada daerah luka bakar. Janga membawa orang dengan luka bakar dalam keadaan terbuka karena dapat menyebabkan evaporasi cairan tubuh yang terekspose udara luar dan menyebabkan dehidrasi. Orang dengan luka bakar biasanya diberikan obat-obatan penahan rasa sakit jenis analgetik : Antalgin, aspirin, asam mefenamat samapai penggunaan morfin oleh tenaga medis.
B. HOSPITAL
Setiap pasien luka bakar harus dianggap sebagai pasien trauma, karenanya harus dicek Airway, breathing dan circulation-nya terlebih dahulu.
1. Airway - apabila terdapat kecurigaan adanya trauma inhalasi, maka segera pasang Endotracheal Tube (ET). Tanda-tanda adanya trauma inhalasi antara lain adalah: riwayat terkurung dalam api, luka bakar pada wajah, bulu hidung yang terbakar, dan sputum yang hitam.
2. Breathing - eschar yang melingkari dada dapat menghambat gerakan dada untuk bernapas, segera lakukan escharotomi. Periksa juga apakah ada trauma-trauma lain yang dapat menghambat gerakan pernapasan, misalnya pneumothorax, hematothorax, dan fraktur costae
3. Circulation - luka bakar menimbulkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan edema. pada luka bakar yang luas dapat terjadi syok hipovolumik karena kebocoran plasma yang luas. Manajemen cairan pada pasien luka bakar, dapat diberikan dengan Formula Baxter.
• Formula Baxter
1. Total cairan = 4cc x berat badan x luas luka bakar
2. Berikan 50% dari total cairan dalam 8 jam pertama, dan sisanya dalam 16 jam berikutnya
2.6 PENANGANAN LUKA BAKAR
Yang harus dilakukan :
1. Bukalah pakaian
Lepaskan semua atribut yang melekat, kecuali yang melekat di luka bakar. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam penanganan medis nantinya. Dan juga untuk menurunkn suhu tubuh, terutama jika luka bakar akibat panas lingkungan ( heat stroke).
2. Siram dengan air bersih
Ini bertujuan untuk melokalisir kerusakan jaringan agar tidak luas. Siram dengan air mengalir atau celupkan langsung ke bak mandi selama ± 10-15 menit, tergantung keadaan. Luka bakar akibat apapun inilah perawatan pertamanya. Jika terbakar akibat bahan kimia, air dapat sebagai penetral dari bahan asam atau basa tersebut. Namun paada luka bakar berat, bukan berarti harus disiram dengan air lebih lama. Justru sebaliknya, siram air secukupnya dan usahakan segera mendapatkan tindakan medis.
3. Mendapat perawatan medis secepatnya
Pada luka bakar berat, perlu mendapat perawatan medis sesegera mungkin, karena luka bakar akan mengkerut. Pada kasus tertentu, luka bakar akan berakibat pada tertutupnya jalan nafas, jika ini terjadi lama, bisa menyebabkan kematian. Selain itu tubuh juga kekurangan cairan, oleh sebab itu memerlukan cairan infuse agar tidak dehidrasi
Yang tidak boleh dilakukan :
1) Jangan melumuri dengan kecap, margarine, salep, dan lain-lain
Pasien dengan luka bakar yang datang kerumah sakit tidak jarang sudah dalam keadaan dilumuri kecap atau mentega, mereka beranggapan ini akan mengurangi panas dan nyeri. Ini menyulitkan dokter untuk melakukan tindakan medis karena bahan tersebut mengganggu proses pengobatan nantinya.
2) Jangan diperban
Pembalutan yang salah justru akan memperparah keadaan. Selain itu justru akan mempersulit proses pembersihan luka. Memang perban diperlukan untuk kasus tertentu, namun sebaiknya dlakukan oleh paramedic. Dalam kasus luka bakar ada 2 pilihan perawatan dibalut atau tidak.
3) Jangan menekuk tubuh
Posisi tubuh harus dalam menjauhi pusat luka, missal tangan, jari _ jari harus dalam keadaan terbuka, tidak boleh menggenggam.
2.8 PENANGANAN TERSIRA AIR PANAS
A. Pertolongan pertama tersiram air panas
1. Jangan panik
a. Bila bagian tubuh yang tersiram air panas tidak tertutup pakaian langsung siram secara perlahan dengan air dingin selama 10 menit.
b. Bila yang tersiram adalah yang tertutup pakaian siram langsung bagian tersebut, setelah itu baru buka pakaian si kecil dengan hati-hati. Bila sulit dilakukan gunting pakaian lalu siram lagi bagian yang terluka dengan air dingin.
c. Kompreslah dengan kain bersih yang telah dicelupkan pada air dingin sampai rasa sakit berkurang.
d. Tutup atau balut bagian tubuh yang luka dengan kasa steril untuk menghindari kemungkinan terjadinya infeksi. Sebelumnya oleskan salep khusus luka lepuh. Jangan balut terlalu kencang, balutan harus melewati bagian yang terluka.
2. Rendam bagian tubuh yang tersiram air panas selama 15-20 menit didalam air yang sejuk bukan air dingin, misalnya air kran. Air sejuk akan menghambat perluasan kerusakan jaringan dan juga sebagai pereda nyeri sementara.
B. Yang tidak boleh dilakukan
a) Jangan mengobati luka bakar dengan mengoleskan pasta gigi, kecap, mentega dan lain-lain karena dapat mengakibatkan infeksi dan membekas.
b) Jangan membalut luka dengan kapas karena akan melekat pada luka. Untuk luka bakar ringan (kemerahan tanpa melepuh) tidak perlu di tutup, untuk luka bakar sedang bisa ditutup dengan balutan kering atau kasa steril.
c) Jangan memecahkan gelembung kulit yang timbul akibat luka. Biarkan gelembung tertutup untuk mencegah infeksi.
2.9 Tindakan sesuai dengan tipe luka bakar dan tersiram air panas
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI LUKA BAKAR
A. Luka bakar (combustio/burn)
adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak langsung atau terpapar dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik (electrict), zat kimia (chemycal), atau radiasi (radiation) .
Luka bakar merupakan bahaya yang potensil terjadi di setiap rumah tangga; banyak laporan menunjukkan, luka bakar oleh karena air panas/cairan panas adalah jenis yang paling sering terjadi pada anak. Bayi dan anak kecil lebih rentan terkena sebab rasa ingin tahu yang besar serta kulit mereka yang sangat sensitif.
Luka bakar yang kecil biasanya dapat ditangani dengan aman di rumah, tapi luka bakar yang cukup luas tentu saja memerlukan perawatan medis. Yang penting ialah melakukan tindakan pencegahan sederhana di rumah.
B. Tersiram air panas
Lepuh disebabkan oleh cairan panas dan menyebabkan kerusakan pada bagian epidermis saja, dengan pembentukan vsikel berisi air dan pengelupasan kulit. Namun anak yang masih kecil kadang mengalami keusakan seluruh ketebalan kulit akibat lepuh minor. Ada alasan kuat yang membatasi suhu maksimum air panas dirumah hanya sampai 54o C (129o F). kebanyakan lepuh terjadi di dapur : orang tua harus diberi tahu untuk menggunakan ketel listrik dengan gulungan lengkungan kawat pendek yang menurunkan risiko anak meraih dan ,menarik ketel.
2.2 ETIOLOGI
Berikut ini beberapa zat yang dapat menyebabkan cidera bakar.
Api
Cairan panas : Gula cair, air panas, minyak
Benda padat panas: : Setrika, rokok, peralatan panas
Uap panas : Uap air panas
Bahan kimia :Air aki
LIstrik
Petir
Radiasi : Sinar matahari
2.3 KLASIFIKASI LUKA BAKAR
Beberapa faktor yang mempengaruhi berat-ringannya injuri luka bakar antara lain kedalaman luka bakar, luas luka bakar, lokasi luka bakar, kesehatan umum, mekanisme injuri dan usia. Berikut ini akan dijelaskan sekilas tentang faktor-faktor tersebut di atas:
A. Kedalaman luka bakar
Kedalaman luka bakar dapat dibagi ke dalam 4 kategori (lihat tabel 3) yang didasarkan pada elemen kulit yang rusak.
1. Superficial (derajat I), dengan ciri-ciri sbb:
• Hanya mengenai lapisan epidermis.
• Luka tampak pink cerah sampai merah (eritema ringan sampai berat).
• Kulit memucat bila ditekan.
• Edema minimal.
• Tidak ada blister.
• Kulit hangat/kering.
• Nyeri / hyperethetic
• Nyeri berkurang dengan pendinginan.
• Discomfort berakhir kira-kira dalam waktu 48 jam.
• Dapat sembuh spontan dalam 3-7 hari.
2. Partial thickness (derajat II), dengan ciri sbb.:
• Partial tihckness dikelompokan menjadi 2, yaitu superpicial partial thickness dan deep partial thickness.
• Mengenai epidermis dan dermis.
• Luka tampak merah sampai pink
• Terbentuk blister
• Edema
• Nyeri
• Sensitif terhadap udara dingin
• Penyembuhan luka :
Superficial partial thickness : 14 - 21 hari
Deep partial thickness : 21 - 28 hari
(Namun demikian penyembuhannya bervariasi tergantung dari kedalaman dan ada tidaknya infeksi).
3. Full thickness (derajat III)
• Mengenai semua lapisan kulit, lemak subcutan dan dapat juga mengenai permukaan otot, dan persarafan dan pembuluh darah.
• Luka tampak bervariasi dari berwarna putih, merah sampai dengan coklat atau hitam.
• Tanpa ada blister.
• Permukaan luka kering dengan tektur kasar/keras.
• Edema.
• Sedikit nyeri atau bahkan tidak ada rasa nyeri.
• Tidak mungkin terjadi penyembuhan luka secara spontan.
• Memerlukan skin graft.
• Dapat terjadi scar hipertropik dan kontraktur jika tidak dilakukan tindakan preventif.
4. Fourth degree (derajat IV)
Mengenai semua lapisan kulit, otot dan tulang.
B. Luas luka bakar
Terdapat beberapa metode untuk menentukan luas luka bakar meliputi
(1) rule of nine,
(2) Lund and Browder
(3) hand palm.
Ukuran luka bakar dapat ditentukan dengan menggunakan salah satu dari metode tersebut. Ukuran luka bakar ditentukan dengan prosentase dari permukaan tubuh yang terkena luka bakar. Akurasi dari perhitungan bervariasi menurut metode yang digunakan dan pengalaman seseorang dalam menentukan luas luka bakar.
Metode rule of nine mulai diperkenalkan sejak tahun 1940-an sebagai suatu alat pengkajian yang cepat untuk menentukan perkiraan ukuran / luas luka bakar. Dasar dari metode ini adalah bahwa tubuh di bagi kedalam bagian-bagian anatomic, dimana setiap bagian mewakili 9 % kecuali daerah genitalia 1 % .
Pada metode Lund and Browder merupakan modifikasi dari persentasi bagian-bagian tubuh menurut usia, yang dapat memberikan perhitungan yang lebih akurat tentang luas luka bakar .
Selain dari kedua metode tersebut di atas, dapat juga digunakan cara lainnya yaitu mengunakan metode hand palm. Metode ini adalah cara menentukan luas atau persentasi luka bakar dengan menggunakan telapak tangan. Satu telapak tangan mewakili 1 % dari permukaan tubuh yang mengalami luka bakar.
Gambar derajat panas :
2.4 MANIFESTASI KLINIK
Gejala yang tampak bila mengalami cedera bakar dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Cedera bakar ringan
Cedera bakar hanya mengenai sebagian kecil permukaan tubuh dan tidak mengenai wajah dan kemaluan anak.
Tanda : terasa perih dan panas, kulit merah
2. Cedera bakar sedang
Cedera bakar mengenai hamper separo permukaan kulit, kecuali wajah dan kemaluan anak.
Tanda : terasa sakit bahka mati rasa karena urat saraf rusak, kulit melepuh.
3. Cedera bakar berat
Cedera bakar mengenai sebagian besar permukaan tubuh terasuk wajah dan kemaluan anak.
Tanda :
a) Kulit terasa sakit / nyeri
b) Kulit gosong dan melepuh
c) Gelisah sera kesadaran menurun
d) Bila terbakar karena tersambar petir atau sengatan lirtrik, timbul sesak nafas bahkan denyut jantung dapat berhenti
e) Bila Cedera bakar mengenai mata akibat terpercik oleh api pengelas, air api, soda api selain nyeri, mata akan mengucurka air, bola mata merah, kelopak mata sangat bengkak, dan sensitive terhadap sinar.
2.5 MANAJEMEN PERAWATAN LUKA BAKAR
A. PRE HOSPITAL
Seorang yang sedang terbakar akan merasa panik, dan akan belari untuk mencari air. Hal ini akan sebaliknya akan memperbesar kobaran api karena tertiup oleh angin. Oleh karena itu, segeralah hentikan (stop), jatuhkan (drop), dan gulingkan (roll) orang itu agar api segera padam. Bila memiliki karung basah, segera gunakan air atau bahan kain basah untuk memadamkan apinya. Sedanguntuk kasus luka bakar karena bahan kimia atau benda dingin, segera basuh dan jauhkan bahan kimia atau benda dingin. Matika sumber listrik dan bawa orang yang mengalami luka bakar dengan menggunakan selimut basah pada daerah luka bakar. Janga membawa orang dengan luka bakar dalam keadaan terbuka karena dapat menyebabkan evaporasi cairan tubuh yang terekspose udara luar dan menyebabkan dehidrasi. Orang dengan luka bakar biasanya diberikan obat-obatan penahan rasa sakit jenis analgetik : Antalgin, aspirin, asam mefenamat samapai penggunaan morfin oleh tenaga medis.
B. HOSPITAL
Setiap pasien luka bakar harus dianggap sebagai pasien trauma, karenanya harus dicek Airway, breathing dan circulation-nya terlebih dahulu.
1. Airway - apabila terdapat kecurigaan adanya trauma inhalasi, maka segera pasang Endotracheal Tube (ET). Tanda-tanda adanya trauma inhalasi antara lain adalah: riwayat terkurung dalam api, luka bakar pada wajah, bulu hidung yang terbakar, dan sputum yang hitam.
2. Breathing - eschar yang melingkari dada dapat menghambat gerakan dada untuk bernapas, segera lakukan escharotomi. Periksa juga apakah ada trauma-trauma lain yang dapat menghambat gerakan pernapasan, misalnya pneumothorax, hematothorax, dan fraktur costae
3. Circulation - luka bakar menimbulkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan edema. pada luka bakar yang luas dapat terjadi syok hipovolumik karena kebocoran plasma yang luas. Manajemen cairan pada pasien luka bakar, dapat diberikan dengan Formula Baxter.
• Formula Baxter
1. Total cairan = 4cc x berat badan x luas luka bakar
2. Berikan 50% dari total cairan dalam 8 jam pertama, dan sisanya dalam 16 jam berikutnya
2.6 PENANGANAN LUKA BAKAR
Yang harus dilakukan :
1. Bukalah pakaian
Lepaskan semua atribut yang melekat, kecuali yang melekat di luka bakar. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam penanganan medis nantinya. Dan juga untuk menurunkn suhu tubuh, terutama jika luka bakar akibat panas lingkungan ( heat stroke).
2. Siram dengan air bersih
Ini bertujuan untuk melokalisir kerusakan jaringan agar tidak luas. Siram dengan air mengalir atau celupkan langsung ke bak mandi selama ± 10-15 menit, tergantung keadaan. Luka bakar akibat apapun inilah perawatan pertamanya. Jika terbakar akibat bahan kimia, air dapat sebagai penetral dari bahan asam atau basa tersebut. Namun paada luka bakar berat, bukan berarti harus disiram dengan air lebih lama. Justru sebaliknya, siram air secukupnya dan usahakan segera mendapatkan tindakan medis.
3. Mendapat perawatan medis secepatnya
Pada luka bakar berat, perlu mendapat perawatan medis sesegera mungkin, karena luka bakar akan mengkerut. Pada kasus tertentu, luka bakar akan berakibat pada tertutupnya jalan nafas, jika ini terjadi lama, bisa menyebabkan kematian. Selain itu tubuh juga kekurangan cairan, oleh sebab itu memerlukan cairan infuse agar tidak dehidrasi
Yang tidak boleh dilakukan :
1) Jangan melumuri dengan kecap, margarine, salep, dan lain-lain
Pasien dengan luka bakar yang datang kerumah sakit tidak jarang sudah dalam keadaan dilumuri kecap atau mentega, mereka beranggapan ini akan mengurangi panas dan nyeri. Ini menyulitkan dokter untuk melakukan tindakan medis karena bahan tersebut mengganggu proses pengobatan nantinya.
2) Jangan diperban
Pembalutan yang salah justru akan memperparah keadaan. Selain itu justru akan mempersulit proses pembersihan luka. Memang perban diperlukan untuk kasus tertentu, namun sebaiknya dlakukan oleh paramedic. Dalam kasus luka bakar ada 2 pilihan perawatan dibalut atau tidak.
3) Jangan menekuk tubuh
Posisi tubuh harus dalam menjauhi pusat luka, missal tangan, jari _ jari harus dalam keadaan terbuka, tidak boleh menggenggam.
2.8 PENANGANAN TERSIRA AIR PANAS
A. Pertolongan pertama tersiram air panas
1. Jangan panik
a. Bila bagian tubuh yang tersiram air panas tidak tertutup pakaian langsung siram secara perlahan dengan air dingin selama 10 menit.
b. Bila yang tersiram adalah yang tertutup pakaian siram langsung bagian tersebut, setelah itu baru buka pakaian si kecil dengan hati-hati. Bila sulit dilakukan gunting pakaian lalu siram lagi bagian yang terluka dengan air dingin.
c. Kompreslah dengan kain bersih yang telah dicelupkan pada air dingin sampai rasa sakit berkurang.
d. Tutup atau balut bagian tubuh yang luka dengan kasa steril untuk menghindari kemungkinan terjadinya infeksi. Sebelumnya oleskan salep khusus luka lepuh. Jangan balut terlalu kencang, balutan harus melewati bagian yang terluka.
2. Rendam bagian tubuh yang tersiram air panas selama 15-20 menit didalam air yang sejuk bukan air dingin, misalnya air kran. Air sejuk akan menghambat perluasan kerusakan jaringan dan juga sebagai pereda nyeri sementara.
B. Yang tidak boleh dilakukan
a) Jangan mengobati luka bakar dengan mengoleskan pasta gigi, kecap, mentega dan lain-lain karena dapat mengakibatkan infeksi dan membekas.
b) Jangan membalut luka dengan kapas karena akan melekat pada luka. Untuk luka bakar ringan (kemerahan tanpa melepuh) tidak perlu di tutup, untuk luka bakar sedang bisa ditutup dengan balutan kering atau kasa steril.
c) Jangan memecahkan gelembung kulit yang timbul akibat luka. Biarkan gelembung tertutup untuk mencegah infeksi.
2.9 Tindakan sesuai dengan tipe luka bakar dan tersiram air panas
Rabu, 22 Desember 2010
ASKEB hernia diafragmatika
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI
dengan HERNIA DIAFRAGMATIKA
I PENGKAJIAN Tgl: 22-10-2010 Jam: 06.00 WIB
I. PENGUMPULAN DATA
A. Data Subjektif
1. Biodata:
Bayi
Nama Bayi : By “Y”
TTL : Bojonegoro, 22-10-2010
Jenis Kelamin : Laki-laki
Anak Ke- : 1
Identitas Orang Tua
Ibu
Nama : Ny “G”
Umur : 25 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Penghasilan : -
Alamat : Ds. Dander RT 01 RW 01 Kec. Dander Kab. Bojonegoro
Ayah
Nama : Tn. “A”
Umur : 27 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : POLRI
Penghasilan : Rp 5.000.000,-
Alamat : Ds. Dander RT 01 RW 01 Kec. Dander Kab. Bojonegoro
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan bayinya lahir pada tanggal 22-10-2010 jam: 06.00 WIB Jenis Kelamin: Lakilaki,langsung menangis. Tapi beyi terlihat sesak napas setelah menangis.
3. Riwayat Antenatal
Ibu mengatakan selama hamil tidak pernah menderita penyakit kronis ataupun menular, ibu makan seperti biasa porsi 3x sehari dan melakukan kunjungan kehamilan sebanyak 8x pada bidan, serta mendapat imunisasi 2x TT, mendapat tablet tambah darah kalk dan vitamin
4. Riwayat Natal
Ibu melahirkan pada usia kehamilan 9 bulan dengan penolong persalinan bidan, lahir spontan, menangis, BB: 2800 gram PB: 48 cm
5. Riwayat Postnatal
Bayi menangis kuat gerak aktif, kulit berwarna kemerahan
6. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
BB: 2800 gram
TB: 48 cm
7. Riwayat Imunisasi
Belum mendapat imunisasi
8. Pola Kebiasaan
a. Pola nutrisi : Bayi di beri ASI
b. Pola eliminasi : bayi mengeluarkan mekonium
c. Pola tidur : ± 12 jam/hari
d. Pola kebersihan : Bayi di sibin 2x/hari Ganti popok setiap habis BAB dan BAK
II. PENGKAJIAN FISIK
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : tidak cukup baik
Kesadaran : Composmentis
TB : 48 cm
BB : 2800 gram
2. TTV
Suhu : 360C
Nadi : 50x/menit
Respirasi : 25x/menit
AS : 5
3. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala dan Leher
Rambut : Hitam lurus
Mata : Konjungtiva merah jambu, sklera putih
Hidung : Simetris, bersih, tidak ada polip
Mulut : Sianosis, tidak sumbing, reflek hisap baik
Telinga : Simetris
Leher : Tidak ada benjolan
b. Dada
Dada asimetris saat bernapas, terdapat bising usus di dada. Bentuk dinding dada kiri dan kanan tidak sama (asimetris)
c. Abdomen
Perut teraba kosong
d. Genetalia
Tidak ada kelainan pada genetalia
e. Ekstremitas
Gerak normal, tidak ada kelainan, jumlah jari tangan kanan 5 kiri 5, jumlah jari kaki kanan5 kiri 5, tidak ada pembengkakan atau bercak-bercak hitam.
f. Integumen
Warna kulit merah, turgor baik, sedikit ada vernik pada tubuh bayi, tidak ada pembengkakan bercak-bercak hitam.
g. Reflek
Menghisap : (−)
Menggengam : (+)
III. ANALISIS DATA
Diagnosa : Bayi baru lahir dengan hernia diafragmatika, 24 jam post partum
Masalah : - bayi dengan sesak napas
- Bayi mengalami muntah akibat obstruksi usus
Kebutuhan : - Anak ditidurkan dalam posisi setengah duduk dan dipasang pipa nasogastrik yang dengan teratur dihisap. Diberikan antibiotika profilaksis.
- Beri oksigen.
- Rongent, USG, Fluoroskopi.
- Bedah, transplantasi paru.
IV. DIAGNOSA KEBIDANAN
Diagnosa aktual : Bayi Lahir dengan hernia diafragmatika, 24 jam post partum.
V. INTERVERENSI
Diagnosa : Bayi Lahir dengan hernia diafragmatika, 24 jam post partum.
Tujuan : setelah bayi diberi asuhan kebidanan, selama 1 X 24 jam, diharapkan bayi sehat dan normal dengan kriteria :
BAB 2 X / hari, BAK 4 – 7 X / hari
Suhu 36oC, RR 45 X/ menit, nadi 36 X/ menit
Dapat menyusui dengan baik atau reflek hisap (+) 30 – 60 X/ menit
Tidak terjadi perubahan warna kulit
Gerak aktif
Potersial terjadi hipotermi, infeksi asfiksia
Interverensi :
1) Jelaskan pada ibu tentang keadaan atau kondisi bayinya
R : meningkatkan pengetahuan dan mengurangi kecemasan ibu
2) Pantau keadaan bayi selama dirawat
R : deteksi dini adanya kelainan
3) Lakukan perawatan pada bayi baru lahir
R : agar kondisi bayi tetap stabil
4) Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin
R : untuk memenuhi nutrisi bayi
5) Jangan lakukan rawat gabung / rooming in
R : karena bayi dengan komplikasi
6) Jaga kehangatan pada bayi
R : Agar bayi tidak terjadi hipotermi
7) Segera beri oksigen
R : agar bayi tidak sesak napas
8) Segera lakukan persiapan operasi
R : melakukan pembedahan pada hernia diafragmatika untuk mengembalikan organ abdomen ketempat semula
VI. IMPLEMENTASI
1. menjelaskan pada ibu bahwa keadaan bayinya tidak cukup sehat, dan dilihat dari geraknya yang kurang aktif, warna kulit kebiruan, walau langsung menangis setelah dilahirkan namun bayi jadi sianosis.
2. memantau keadaan bayinya selama dirawat meliputi :
Keadaan umum
TTV
BAB, BAK
Nutrisi
Perubahan warna kulit
Gerak atau aktivitas
Tali pusat
Reflek menghisap
3. melakukan perawatan pada pada bayi baru lahir
mandi 2x/hari,pemberian profilaksis (chloramfenicol 1% / oxiteracylin ) dan Vitamin K 0.02 cc pada jam pertama setelah lahir
merawat tali pusat dengan cara : luka tali pusat dibersihkan kemudian dibalut dengan kasa steril.
Mengganti popok setiap kali basah, dibersihkan dengan sabun dan air kemudian dikeringkan
4. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin, yakni setiap bayi menangis atau setiap 2 – 3 jam. Karena ASI mengandung banyak antibody yang dapat mencegah infeksi pada bayi
5. Tidak melakukan rawat gabung/ rooming in antara ibu dan bayinya karena ada komplikasi dengan bayinya
6. Menjaga kehangatan bayi dengan cara :
Menyelimuti tubuh bayi
Menjaga kehangatan ruangan dan lingkungan
Memakaikan topi, sarung tangan dan kaki.
7. Segera beri bayi oksigen agar bayi tidak ssak napas lagi
8. Segera siapkan operasi untuk segera mengembalikan organ abdomen ketempatnya kembali.
VII. EVALUASI
Tanggal : 22-10-2010 jam : 08.00 WIB
Bayi masih ibu bahwa keadaan bayinya tidak cukup sehat, dan dilihat dari geraknya yang kurang aktif, warna kulit kebiruan, walau langsung menangis setelah dilahirkan namun bayi jadi sianosis bayi muntah karena obstruksi usus. BBL 2800 gram.
TTV : Nadi 50 x/ menit
RR 25 x/ menit
Suhu 36 0 C
dengan HERNIA DIAFRAGMATIKA
I PENGKAJIAN Tgl: 22-10-2010 Jam: 06.00 WIB
I. PENGUMPULAN DATA
A. Data Subjektif
1. Biodata:
Bayi
Nama Bayi : By “Y”
TTL : Bojonegoro, 22-10-2010
Jenis Kelamin : Laki-laki
Anak Ke- : 1
Identitas Orang Tua
Ibu
Nama : Ny “G”
Umur : 25 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Penghasilan : -
Alamat : Ds. Dander RT 01 RW 01 Kec. Dander Kab. Bojonegoro
Ayah
Nama : Tn. “A”
Umur : 27 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : POLRI
Penghasilan : Rp 5.000.000,-
Alamat : Ds. Dander RT 01 RW 01 Kec. Dander Kab. Bojonegoro
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan bayinya lahir pada tanggal 22-10-2010 jam: 06.00 WIB Jenis Kelamin: Lakilaki,langsung menangis. Tapi beyi terlihat sesak napas setelah menangis.
3. Riwayat Antenatal
Ibu mengatakan selama hamil tidak pernah menderita penyakit kronis ataupun menular, ibu makan seperti biasa porsi 3x sehari dan melakukan kunjungan kehamilan sebanyak 8x pada bidan, serta mendapat imunisasi 2x TT, mendapat tablet tambah darah kalk dan vitamin
4. Riwayat Natal
Ibu melahirkan pada usia kehamilan 9 bulan dengan penolong persalinan bidan, lahir spontan, menangis, BB: 2800 gram PB: 48 cm
5. Riwayat Postnatal
Bayi menangis kuat gerak aktif, kulit berwarna kemerahan
6. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
BB: 2800 gram
TB: 48 cm
7. Riwayat Imunisasi
Belum mendapat imunisasi
8. Pola Kebiasaan
a. Pola nutrisi : Bayi di beri ASI
b. Pola eliminasi : bayi mengeluarkan mekonium
c. Pola tidur : ± 12 jam/hari
d. Pola kebersihan : Bayi di sibin 2x/hari Ganti popok setiap habis BAB dan BAK
II. PENGKAJIAN FISIK
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : tidak cukup baik
Kesadaran : Composmentis
TB : 48 cm
BB : 2800 gram
2. TTV
Suhu : 360C
Nadi : 50x/menit
Respirasi : 25x/menit
AS : 5
3. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala dan Leher
Rambut : Hitam lurus
Mata : Konjungtiva merah jambu, sklera putih
Hidung : Simetris, bersih, tidak ada polip
Mulut : Sianosis, tidak sumbing, reflek hisap baik
Telinga : Simetris
Leher : Tidak ada benjolan
b. Dada
Dada asimetris saat bernapas, terdapat bising usus di dada. Bentuk dinding dada kiri dan kanan tidak sama (asimetris)
c. Abdomen
Perut teraba kosong
d. Genetalia
Tidak ada kelainan pada genetalia
e. Ekstremitas
Gerak normal, tidak ada kelainan, jumlah jari tangan kanan 5 kiri 5, jumlah jari kaki kanan5 kiri 5, tidak ada pembengkakan atau bercak-bercak hitam.
f. Integumen
Warna kulit merah, turgor baik, sedikit ada vernik pada tubuh bayi, tidak ada pembengkakan bercak-bercak hitam.
g. Reflek
Menghisap : (−)
Menggengam : (+)
III. ANALISIS DATA
Diagnosa : Bayi baru lahir dengan hernia diafragmatika, 24 jam post partum
Masalah : - bayi dengan sesak napas
- Bayi mengalami muntah akibat obstruksi usus
Kebutuhan : - Anak ditidurkan dalam posisi setengah duduk dan dipasang pipa nasogastrik yang dengan teratur dihisap. Diberikan antibiotika profilaksis.
- Beri oksigen.
- Rongent, USG, Fluoroskopi.
- Bedah, transplantasi paru.
IV. DIAGNOSA KEBIDANAN
Diagnosa aktual : Bayi Lahir dengan hernia diafragmatika, 24 jam post partum.
V. INTERVERENSI
Diagnosa : Bayi Lahir dengan hernia diafragmatika, 24 jam post partum.
Tujuan : setelah bayi diberi asuhan kebidanan, selama 1 X 24 jam, diharapkan bayi sehat dan normal dengan kriteria :
BAB 2 X / hari, BAK 4 – 7 X / hari
Suhu 36oC, RR 45 X/ menit, nadi 36 X/ menit
Dapat menyusui dengan baik atau reflek hisap (+) 30 – 60 X/ menit
Tidak terjadi perubahan warna kulit
Gerak aktif
Potersial terjadi hipotermi, infeksi asfiksia
Interverensi :
1) Jelaskan pada ibu tentang keadaan atau kondisi bayinya
R : meningkatkan pengetahuan dan mengurangi kecemasan ibu
2) Pantau keadaan bayi selama dirawat
R : deteksi dini adanya kelainan
3) Lakukan perawatan pada bayi baru lahir
R : agar kondisi bayi tetap stabil
4) Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin
R : untuk memenuhi nutrisi bayi
5) Jangan lakukan rawat gabung / rooming in
R : karena bayi dengan komplikasi
6) Jaga kehangatan pada bayi
R : Agar bayi tidak terjadi hipotermi
7) Segera beri oksigen
R : agar bayi tidak sesak napas
8) Segera lakukan persiapan operasi
R : melakukan pembedahan pada hernia diafragmatika untuk mengembalikan organ abdomen ketempat semula
VI. IMPLEMENTASI
1. menjelaskan pada ibu bahwa keadaan bayinya tidak cukup sehat, dan dilihat dari geraknya yang kurang aktif, warna kulit kebiruan, walau langsung menangis setelah dilahirkan namun bayi jadi sianosis.
2. memantau keadaan bayinya selama dirawat meliputi :
Keadaan umum
TTV
BAB, BAK
Nutrisi
Perubahan warna kulit
Gerak atau aktivitas
Tali pusat
Reflek menghisap
3. melakukan perawatan pada pada bayi baru lahir
mandi 2x/hari,pemberian profilaksis (chloramfenicol 1% / oxiteracylin ) dan Vitamin K 0.02 cc pada jam pertama setelah lahir
merawat tali pusat dengan cara : luka tali pusat dibersihkan kemudian dibalut dengan kasa steril.
Mengganti popok setiap kali basah, dibersihkan dengan sabun dan air kemudian dikeringkan
4. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin, yakni setiap bayi menangis atau setiap 2 – 3 jam. Karena ASI mengandung banyak antibody yang dapat mencegah infeksi pada bayi
5. Tidak melakukan rawat gabung/ rooming in antara ibu dan bayinya karena ada komplikasi dengan bayinya
6. Menjaga kehangatan bayi dengan cara :
Menyelimuti tubuh bayi
Menjaga kehangatan ruangan dan lingkungan
Memakaikan topi, sarung tangan dan kaki.
7. Segera beri bayi oksigen agar bayi tidak ssak napas lagi
8. Segera siapkan operasi untuk segera mengembalikan organ abdomen ketempatnya kembali.
VII. EVALUASI
Tanggal : 22-10-2010 jam : 08.00 WIB
Bayi masih ibu bahwa keadaan bayinya tidak cukup sehat, dan dilihat dari geraknya yang kurang aktif, warna kulit kebiruan, walau langsung menangis setelah dilahirkan namun bayi jadi sianosis bayi muntah karena obstruksi usus. BBL 2800 gram.
TTV : Nadi 50 x/ menit
RR 25 x/ menit
Suhu 36 0 C
Minggu, 14 November 2010
makalah farmakologi tentang alergi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Alergi adalah suatu reaksi sistem kekebalan tubuh (imunitas) terhadap suatu bahan/zat asing (alergen). Bentuk reaksi itu macam-macam, bisa berbentuk ruam kemerahan, penyumbatan (kongesti), pilek, bersin, radang mata, asma, shock atau bahkan kematian (jarang terjadi).
Alergi sangat dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh. Normalnya sistem kekebalan tubuh dirancang untuk melawan bakteri, jamur, virus dan benda asing lainnya. Namun dalam kenyataannya sistem kekebalan tubuh menimbulkan reaksi yang berlebihan pada benda asing. Reaksi yang berlebihan oleh sistem kekebalan tubuh terhadap benda asing ini menimbulkan alergi.
Alergi obat terjadi karena tubuh seseorang sangat sensitif sehingga bereaksi secara berlebihan terhadap obat yang digunakan. Tubuh berusaha menolak obat tersebut, namun reaksi penolakannya amat berlebihan sehingga merugikan tubuh sendiri. Reaksi itu bisa berupa gatal, sesak napas, penurunan tekanan darah, reaksi kulit disertai kelainan pada selaput lendir saluran cerna, sindrom Stevens-Johnson pada saluran napas dan kemaluan.
Beberapa alergi obat hilang dengan sendirinya beberapa waktu. Tetapi setelah anda memiliki reaksi alergi terhadap obat-obatan, anda mungkin akan selalu menjadi alergi obat. Anda juga bisa alergi obat-obatan lainnya yang seperti itu. Alergi obat merupakan salah satu jenis berbahaya, atau Adverse, reaksi narkoba. Gejala dan perawatan dari berbagai jenis Adverse reaksi berbeda.
Risiko alergi obat meningkat pada orang yang memiliki bakat alergi atau dalam istilah kedokteran disebut denganatopi. Untuk menghindari terjadinya alergi obat, perlu kerja sama antara pasien dan dokter. Pasien harus mengemukakan pengalamannya menggunakan obat selama ini, apakah obat tertentu membuat tubuh alergi atau dicurigai menimbulkan alergi.
B. Proses terjadinya alergi
Normalnya benda – benda asing yang masuk ke dalam tubuh bisa diidentifikasi dengan aman dan dapat diabaikan. Alergi terjadi jika sistem kekebalan tubuh salah mengidentifikasi benda asing sehingga benda asing itu dianggap sebagai ancaman. Karena di anggap ancaman maka sistem kekebalan tubuh akan mengeluarkan berbagai macam zat dan antibody untuk melawan benda asing tersebut. Zat dan senyawa yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh menimbulkan gejala – gejala alergi bagi tubuh penderita. Benda asing yang menyebabkan alergi disebut sebagai alergen. Sistem kekebalan tubuh yang berperan dalam proses terjadinya alergi adalah IgE (immunoglobulin E). Seseorang akan mudah menderita alergi jika orang tersebut ada riwayat keturunan alergi.
C. Zat yang dapat menyebabkan alergi
Pada dasarnya hampir semua obat, makanan, atau apapun yang Anda konsumsi dapat berpotensi menimbulkan alergi. Setiap orang memiliki jenis alergi yang berbeda-beda. Namun, dari Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI menyebutkan obat yang yang sering menimbulkan alergi adalag antibiotika penisilin dan turunannya (ampisilin, amoksisilin, kloksasilin), antibiotika sulfonamide, obat antidemam dan antinyeri (seperti asam salisilat, parasetamol, dll).
Obat apapun dapat menyebabkan reaksi alergi. Beberapa yang umum adalah:
1) Penicillins (seperti nafcillin, ampicillin atau amoxicillin). Jenis obat-obatan yang paling menyebabkan alergi obat.
2) Sulfa obat-obatan.
3) barbiturates.
4) Insulin.
5) Vaksin.
Vaksin adalah sebuah senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh terhadap virus dengan menghasilkan antibodi. Vaksin terbuat dari virus yang telah dimatikan atau "dilemahkan" dengan menggunakan bahan-bahan tambahan lainnya seperti formalaldehid, thymerosal dan lainnya. Sedangkan vaksinasi adalah suatu usaha memberikan vaksin tertentu ke dalam tubuh untuk menghasilkan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit/virus tersebut. Tanda alergi yang biasa dialami oleh seseorang yang diberi vaksin adalah demam.
Sistem kekebalan mengenali partikel vaksin sebagai agen asing, menghancurkannya, dan "mengingat"-nya. Ketika di kemudian hari agen yang virulen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan telah siap:
1. menetralkan bahannya sebelum bisa memasuki sel dan
2. mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi sebelum agen ini dapat berbiak.
6) Anticonvulsants.
7) Obat untuk Hyperthyroidism.
risiko tinggi
1. Allopurinol
2. Sulfamethoxazole
3. Sulfamediazine
4. Sulfapyridine
5. Sulfadoxine
6. Sulfasalazine
7. Carbamezepine
8. Lamotrigine
9. Phenobartbital
10. Phenytoin
11. Phenylbutazone
12. Nevirapine
13. Oxicam NSAIDs
14. Thiacetazone
Resiko rendah
1. Acetic Acid NSAIDS
2. Aminopenicilins
3. Cephalosporinsquinolones
4. Cyclins
5. Macrolides
Cukup aman
1) Paracetamol (acetaminophen)
Paracetamol adalah suatu senyawa Acetazolamida dari Pirlideniadan termasuk salah satu nootropikagen yang berpengaruh pada susunan syaraf pusat. Biasanya akibat darimeminum paracetamol ini tidak mengalami reaksi alergi,jadi cukup aman.
2) Pyrazolone analgesics
3) Corticosteroid
4) Sertraline
Tak berisiko
1. Aspirin
2. Sulfonylurea
3. Thiazide diuretics
4. Aldactone
5. Calcium channel blockers
6. Statins
7. Hormon
8. Vitamin
Jika Anda alergi salah satu obat-obatan, Anda mungkin alergi lain seperti itu. Misalnya, jika Anda alergi penisilin, Anda mungkin juga alergi sama obat-obatan seperti cephalosporins (cephalexin atau cefuroxime, misalnya).
D. Gejala
Gejala alergi dapat mulai dari yang ringan hingga yang berat. Gejala alergi yang ringan dapat berupa bersin – bersin, hidung meler, gatal – gatal baik bersifat lokal atau seluruh tubuh, hidung mampet dan gejala alergi lainnya. Gejala alergi dapat dapat terlihat pada kulit, mata, hidung, paru-paru dan perut, tergantung pada jenis alerginya. Gejala-gejala alergi obat bisa mulai dari ringan ke sangat serius adalah:
1. hives atau welts, ruam, blisters, atau masalah kulit disebut eksim. Ini adalah yang paling umum gejala alergi obat. Lihat gambar kulit yang disebabkan oleh reaksi alergi obat.
2. Batuk, wheezing, Hidung, dan kesulitan bernapas.
3. demam.
4. kulit melepuh dan mengelupas. Masalah ini disebut racun berhubung dgn kulit necrolysis, dan dapat membawa maut jika tidak dirawat.
5. Anaphylaxis, yang merupakan reaksi paling berbahaya. Dapat membawa maut, dan Anda akan memerlukan perawatan darurat. Gejala, seperti hives dan kesulitan bernapas, biasanya muncul dalam waktu 1 jam setelah minum obat, reaksi cepat tanpa perawatan, Anda dapat masuk ke shock.
Gambaran lain yang menandakan adanya alergi obat :
1) Adanya penonjolan kemerahan, seperti orang terkena cacar
2) Adanya biduran
3) Adanya kemerahan pada kulit yang disertai dengan sisik kulit.
4) Adanya perdarahan dalam kulit, seperti kemerahan pada penderita demam berdarah dengue.
5) Adanya radang pada pembulih darah (vaskulitis)
6) Adanya rekasi kemerahan karena kontak dengan sinar matahari
7) Adanya penonjolan bernanah seperti jerawat
8) Kelainan lain gawat darurat, seperti kulit seperti terbakar yang dalam klinik disebut nekrolisis epidermal toksik
Gejala alergi yang berbahaya : rekasi anafilaksis
Reaksi alergi yang sangat berbahaya adalah gejala anafilaksis, gejalanya dapat berupa shock berupa tekanan darah secara tiba – tiba dan cepat sehingga membahayakan nyawa si penderita, kepala pusing dan sang penderita terlihat sangat cemas sehingga perlu penanganan yang cepat dan harus segera di bawa ke klinik atau RS. Gejala alergi anafilaksis paling sering terjadi pada gigitan serangga dan alergi obat tertentu namun reaksi anafilaksis akibat minum obat tersangat jarang terjadi.
E. Cara dokter mendiagnosa adanya reaksi alergi
a) Dokter menanyakan mengenai riwayat obat-obatan di masa lalu.
b) Dokter menanyakan mengenai kesehatan masa lalu
c) akan melakukan pemeriksaan fisik.
Jika tidak memberitahu dokter apakah anda memiliki alergi obat, maka ia dapat melakukannya tes kulit apakah Anda memiliki reaksi alergi.
Dalam beberapa kasus, Anda mungkin perlu tes darah atau lainnya jenis pengujian.
Adapun yang dilakukan oleh dokter ialah :
1. Dokter mewawancara (anamnesa) seperti:
a) Obat-obat apa saja yang Anda konsumsi belakangan ini? Apakah Anda mengonsumsi obat tradisional seperti obat Cina atau jamu-jamuan
b) . Apakah kelainan ini muncul setelah Anda mengonsumsi obat atau jamu tersebut?
c) Apakah ada rasa gatal dan demam yang tak terlalu tinggi?
2. Dokter melakukan pemeriksaan pada kulit Anda, dan diagnosa ini dapat ditegakkan dengan melihat adanya gejala:
a) Adanya penyebaran kelainan kulit yang tersebar dan simetris atau setempat saja
b) Adanya bentuk kelainan yang timbul seperti kemerahan pada kulit, adanya biduran, perdarahan dalam kulit, tonjolan bernanah, dan lainnya.
F. Pengobatan
Hal terbaik yang dapat Anda lakukan untuk alergi obat adalah untuk berhenti meminum obat yang menyebabkan alergi, dan bicara dengan dokter untuk melihat apakah Anda dapat menggunakan jenis obat lain yang dapat dikonsumsi tanpa timbul alergi.
a) Jika pasien memiliki reaksi alergi yang mengancam hidup pasien, dokter harus memberikan epinephrine. Jika pasien mengalami kesulitan bernapas atau jika mulai mendapatkan hives. Dokter perlu mengambil obat-obatan lainnya, seperti antihistamines steroid dan obat-obata, dan meletakkan obat-obatan ini secara langsung ke dalam pembuluh darah (IV).
b) Jika pasien memiliki reaksi alergi ringan, over-the-counter antihistamines gejala dapat membantu pasien. Namun memiliki efek ngantuk.
c) Jika dokter tidak dapat mengubah obat, dokter dapat mencoba metode yang disebut desensitization.
1) Pertama yang harus dilakukan adalah mulai mengambil jumlah kecil obat yang menyebabkan reaksi .
2) Secara perlahan-lahan tingkatkan jumlah dosis pemakaian. Hal ini memungkinkan pasien mendapatkan sistem kekebalan "digunakan untuk mendapatkan" obat. Setelah inipasien dapat dipastikan tidak lagi memiliki reaksi alergi.
Dokter akan mempertimbangkan antara dua jenis obat yaitu untuk memberikan efek :
a) sistemik (ke selutuh tubuh)
b) hanya topikal (setempat).
Tentunya ini berdasarkan kebutuhan dari pasien dan keadaan pasien.
Obat yang termasuk sistemik adalah obat jenis kortikosteroid yang diberikan secara diminum, misalnya obat prednison. Dokter juga dapat memberikan obat antihistamin untuk meredakan rasa gatal.
Pengobatan topikal juga bergantung pada keadaan kulit, apakah kering atau basah. Jika kering dapat diberikan bedak salisilat. Jika basah akan diberikan kompres dengan larutan salisilat.
Sebenarnya, penyakit ini dapat disembuhkan apabila kita mampu mengetahui obat apa atau zat apa yang menyebabkan alergi ini. Akan tetapi terdapat keadaan tertentu seperti nekrolisis epidermal toksik dan sindrom Steven Johnson, yang dapat mematikan. Hal ini kembali pada bagaimana kualitas dari reaksi tubuh tersebut kepada obat yang dipakai.
Pendekatan terhadap alergi saat ini sudah sangat maju. Dari obat-obatan sampai lewat imunoterapi , alergi obat ini dapat diatasi bila kita mengetahui jenis-jenis obat.
Obat alergi yang terbaik adalah dengan mencegah alergi tersebut dengan menghindari alergen/benda yang diketahui menyebabkan alergi. Jika telah terjadi alergi maka diperlukan obat untuk mengurangi gejala alergi yang terjadi. Obat alergi yang sering diberikan oleh dokter adalah antihistamin dan kostikosteroid. Kedua jenis obat tersebut banyak tersedia di apotik namun tetap harus berdasarkan resep dokter.
Pengobatan gejala alergi yang parah memerlukan pengobatan immunotherapy oleh dokter ahli alergi dengan memberikan suntikan dari allergen kepada penderita dengan tujuan membangun ketahanan tubuh terhadap allergen tersebut. Adapun alergi anafilaksis memerlukan perawatan medis darurat yang cepat dengan di bawa ke klinik atau RS. Adapun obat yang diberikan untuk pengobatan alergi anafilaksis adalah dengan suntikan epinefrin dan pemberian infus.
OBAT ALERGI DAN IMUNITAS
Obat alergi diperlukan untuk mengendalikan gejala alergi dengan menghilangkan alergen (penyebab alergi). Namun, untuk mengendalikan alergi dalam jangka panjang disarankan melakukan imunoterapi dengan vaksin antiserum dan imunologikal.
Obat alergi dapat terbagi dalam 2 golongan yaitu :
1. Obat alergi golongan antihistamin (AH1)
Obat alergi golongan antihistamin ini bekerja menghambat reseptor H1 (AH1) yang menyebabkan timbulnya reaksi alergi akibat dilepaskannya histamin. Histamin inilah yang kemudian menimbulkan reaksi imunitas seperti ruam kemerahan, gatal-gatal, pilek, bersin, dll.
2. Obat alergi golongan kortikosteroid (kortison)
Kortikosteroid merupakan hormon yang disekresi oleh kelenjar anak ginjal (adrenal cortex) atau obat-obat yang disintesis dan kerjanya analog dengan hormon ini. Efek yang ditimbulkan oleh obat ini luas sekali dan dapat dikatakan mempengaruhi hampir semua sistem dalam tubuh mulai dari keseimbangan cairan dan elektrolit hingga daya tahan tubuh. Oleh karena itu dalam terapi obat golongan steorid mempunyai indikasi yang sangat luas. Salah satunya sebagai anti alergi pada serangan akut dan parah Penggunaan kortikosteorid diusahakan tidak dalam jangka waktu panjang dan dengan dosis serendah mungkin yang sudah memberikan efek terapi sesuai indikasinya. Dipilih dulu sediaan yang nonsistemik (topikal atau inhalasi) karena tidak/sedikit sekali diserap ke dalam tubuh. Jika obat ini sudah digunakan dalam jangka waktu lama, maka untuk menghentikannya tidak boleh mendadak, tetapi harus diturunkan perlahan-lahan.
G. Pencegahan
Untuk mencegah alergi ini kembali:
a) Yang paling mudah adalah memastikan bahwa pasien tidak lagi mengonsumsi obat tersebut.
b) Bila pasien, pada kesempatan lainnya, berkonsultasi dengan dokter, ingatkanlah dokter bahwa pasien memiliki alergi terhadap obat tertentu.
c) Merubah pola hidup menjadi dasar perbaikan seluruh kondisi alergi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Alergi adalah suatu reaksi sistem kekebalan tubuh (imunitas) terhadap suatu bahan/zat asing (alergen). Bentuk reaksi itu macam-macam, bisa berbentuk ruam kemerahan, penyumbatan (kongesti), pilek, bersin, radang mata, asma, shock atau bahkan kematian (jarang terjadi).
Alergi sangat dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh. Normalnya sistem kekebalan tubuh dirancang untuk melawan bakteri, jamur, virus dan benda asing lainnya. Namun dalam kenyataannya sistem kekebalan tubuh menimbulkan reaksi yang berlebihan pada benda asing. Reaksi yang berlebihan oleh sistem kekebalan tubuh terhadap benda asing ini menimbulkan alergi.
Gejala-gejala alergi obat bisa mulai dari ringan ke sangat serius adalah:
6. hives atau welts, ruam, blisters, atau masalah kulit disebut eksim. Ini adalah yang paling umum gejala alergi obat. Lihat gambar kulit yang disebabkan oleh reaksi alergi obat.
7. Batuk, wheezing, Hidung, dan kesulitan bernapas.
8. demam.
9. kulit melepuh dan mengelupas. Masalah ini disebut racun berhubung dgn kulit necrolysis, dan dapat membawa maut jika tidak dirawat.
10. Anaphylaxis, yang merupakan reaksi paling berbahaya. Dapat membawa maut, dan Anda akan memerlukan perawatan darurat. Gejala, seperti hives dan kesulitan bernapas, biasanya muncul dalam waktu 1 jam setelah minum obat, reaksi cepat tanpa perawatan, Anda dapat masuk ke shock.
B. Saran
Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Untuk mencegah alergi ini kembali:
d) Yang paling mudah adalah memastikan bahwa pasien tidak lagi mengonsumsi obat tersebut.
e) Bila pasien, pada kesempatan lainnya, berkonsultasi dengan dokter, ingatkanlah dokter bahwa pasien memiliki alergi terhadap obat tertentu.
f) Merubah pola hidup menjadi dasar perbaikan seluruh kondisi alergi.
Daftar Pustaka
1) (http://www.pediatrik.com/pkb/20060220-k5ms69-pkb.pdf)
2) : http://donadivinamed.wordpress.com/2009/03/17/bio-resonance-therapy/
3) Sumber: wawancara. Ewy
4) Djuanda,adji,Prof,Dr,spkk,dkk.2010. MIMS Indonesia petunjuk konsultasi.Jakarta.CMP MEDIKA
by : insani miftachul janah dkk
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Alergi adalah suatu reaksi sistem kekebalan tubuh (imunitas) terhadap suatu bahan/zat asing (alergen). Bentuk reaksi itu macam-macam, bisa berbentuk ruam kemerahan, penyumbatan (kongesti), pilek, bersin, radang mata, asma, shock atau bahkan kematian (jarang terjadi).
Alergi sangat dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh. Normalnya sistem kekebalan tubuh dirancang untuk melawan bakteri, jamur, virus dan benda asing lainnya. Namun dalam kenyataannya sistem kekebalan tubuh menimbulkan reaksi yang berlebihan pada benda asing. Reaksi yang berlebihan oleh sistem kekebalan tubuh terhadap benda asing ini menimbulkan alergi.
Alergi obat terjadi karena tubuh seseorang sangat sensitif sehingga bereaksi secara berlebihan terhadap obat yang digunakan. Tubuh berusaha menolak obat tersebut, namun reaksi penolakannya amat berlebihan sehingga merugikan tubuh sendiri. Reaksi itu bisa berupa gatal, sesak napas, penurunan tekanan darah, reaksi kulit disertai kelainan pada selaput lendir saluran cerna, sindrom Stevens-Johnson pada saluran napas dan kemaluan.
Beberapa alergi obat hilang dengan sendirinya beberapa waktu. Tetapi setelah anda memiliki reaksi alergi terhadap obat-obatan, anda mungkin akan selalu menjadi alergi obat. Anda juga bisa alergi obat-obatan lainnya yang seperti itu. Alergi obat merupakan salah satu jenis berbahaya, atau Adverse, reaksi narkoba. Gejala dan perawatan dari berbagai jenis Adverse reaksi berbeda.
Risiko alergi obat meningkat pada orang yang memiliki bakat alergi atau dalam istilah kedokteran disebut denganatopi. Untuk menghindari terjadinya alergi obat, perlu kerja sama antara pasien dan dokter. Pasien harus mengemukakan pengalamannya menggunakan obat selama ini, apakah obat tertentu membuat tubuh alergi atau dicurigai menimbulkan alergi.
B. Proses terjadinya alergi
Normalnya benda – benda asing yang masuk ke dalam tubuh bisa diidentifikasi dengan aman dan dapat diabaikan. Alergi terjadi jika sistem kekebalan tubuh salah mengidentifikasi benda asing sehingga benda asing itu dianggap sebagai ancaman. Karena di anggap ancaman maka sistem kekebalan tubuh akan mengeluarkan berbagai macam zat dan antibody untuk melawan benda asing tersebut. Zat dan senyawa yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh menimbulkan gejala – gejala alergi bagi tubuh penderita. Benda asing yang menyebabkan alergi disebut sebagai alergen. Sistem kekebalan tubuh yang berperan dalam proses terjadinya alergi adalah IgE (immunoglobulin E). Seseorang akan mudah menderita alergi jika orang tersebut ada riwayat keturunan alergi.
C. Zat yang dapat menyebabkan alergi
Pada dasarnya hampir semua obat, makanan, atau apapun yang Anda konsumsi dapat berpotensi menimbulkan alergi. Setiap orang memiliki jenis alergi yang berbeda-beda. Namun, dari Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI menyebutkan obat yang yang sering menimbulkan alergi adalag antibiotika penisilin dan turunannya (ampisilin, amoksisilin, kloksasilin), antibiotika sulfonamide, obat antidemam dan antinyeri (seperti asam salisilat, parasetamol, dll).
Obat apapun dapat menyebabkan reaksi alergi. Beberapa yang umum adalah:
1) Penicillins (seperti nafcillin, ampicillin atau amoxicillin). Jenis obat-obatan yang paling menyebabkan alergi obat.
2) Sulfa obat-obatan.
3) barbiturates.
4) Insulin.
5) Vaksin.
Vaksin adalah sebuah senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh terhadap virus dengan menghasilkan antibodi. Vaksin terbuat dari virus yang telah dimatikan atau "dilemahkan" dengan menggunakan bahan-bahan tambahan lainnya seperti formalaldehid, thymerosal dan lainnya. Sedangkan vaksinasi adalah suatu usaha memberikan vaksin tertentu ke dalam tubuh untuk menghasilkan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit/virus tersebut. Tanda alergi yang biasa dialami oleh seseorang yang diberi vaksin adalah demam.
Sistem kekebalan mengenali partikel vaksin sebagai agen asing, menghancurkannya, dan "mengingat"-nya. Ketika di kemudian hari agen yang virulen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan telah siap:
1. menetralkan bahannya sebelum bisa memasuki sel dan
2. mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi sebelum agen ini dapat berbiak.
6) Anticonvulsants.
7) Obat untuk Hyperthyroidism.
risiko tinggi
1. Allopurinol
2. Sulfamethoxazole
3. Sulfamediazine
4. Sulfapyridine
5. Sulfadoxine
6. Sulfasalazine
7. Carbamezepine
8. Lamotrigine
9. Phenobartbital
10. Phenytoin
11. Phenylbutazone
12. Nevirapine
13. Oxicam NSAIDs
14. Thiacetazone
Resiko rendah
1. Acetic Acid NSAIDS
2. Aminopenicilins
3. Cephalosporinsquinolones
4. Cyclins
5. Macrolides
Cukup aman
1) Paracetamol (acetaminophen)
Paracetamol adalah suatu senyawa Acetazolamida dari Pirlideniadan termasuk salah satu nootropikagen yang berpengaruh pada susunan syaraf pusat. Biasanya akibat darimeminum paracetamol ini tidak mengalami reaksi alergi,jadi cukup aman.
2) Pyrazolone analgesics
3) Corticosteroid
4) Sertraline
Tak berisiko
1. Aspirin
2. Sulfonylurea
3. Thiazide diuretics
4. Aldactone
5. Calcium channel blockers
6. Statins
7. Hormon
8. Vitamin
Jika Anda alergi salah satu obat-obatan, Anda mungkin alergi lain seperti itu. Misalnya, jika Anda alergi penisilin, Anda mungkin juga alergi sama obat-obatan seperti cephalosporins (cephalexin atau cefuroxime, misalnya).
D. Gejala
Gejala alergi dapat mulai dari yang ringan hingga yang berat. Gejala alergi yang ringan dapat berupa bersin – bersin, hidung meler, gatal – gatal baik bersifat lokal atau seluruh tubuh, hidung mampet dan gejala alergi lainnya. Gejala alergi dapat dapat terlihat pada kulit, mata, hidung, paru-paru dan perut, tergantung pada jenis alerginya. Gejala-gejala alergi obat bisa mulai dari ringan ke sangat serius adalah:
1. hives atau welts, ruam, blisters, atau masalah kulit disebut eksim. Ini adalah yang paling umum gejala alergi obat. Lihat gambar kulit yang disebabkan oleh reaksi alergi obat.
2. Batuk, wheezing, Hidung, dan kesulitan bernapas.
3. demam.
4. kulit melepuh dan mengelupas. Masalah ini disebut racun berhubung dgn kulit necrolysis, dan dapat membawa maut jika tidak dirawat.
5. Anaphylaxis, yang merupakan reaksi paling berbahaya. Dapat membawa maut, dan Anda akan memerlukan perawatan darurat. Gejala, seperti hives dan kesulitan bernapas, biasanya muncul dalam waktu 1 jam setelah minum obat, reaksi cepat tanpa perawatan, Anda dapat masuk ke shock.
Gambaran lain yang menandakan adanya alergi obat :
1) Adanya penonjolan kemerahan, seperti orang terkena cacar
2) Adanya biduran
3) Adanya kemerahan pada kulit yang disertai dengan sisik kulit.
4) Adanya perdarahan dalam kulit, seperti kemerahan pada penderita demam berdarah dengue.
5) Adanya radang pada pembulih darah (vaskulitis)
6) Adanya rekasi kemerahan karena kontak dengan sinar matahari
7) Adanya penonjolan bernanah seperti jerawat
8) Kelainan lain gawat darurat, seperti kulit seperti terbakar yang dalam klinik disebut nekrolisis epidermal toksik
Gejala alergi yang berbahaya : rekasi anafilaksis
Reaksi alergi yang sangat berbahaya adalah gejala anafilaksis, gejalanya dapat berupa shock berupa tekanan darah secara tiba – tiba dan cepat sehingga membahayakan nyawa si penderita, kepala pusing dan sang penderita terlihat sangat cemas sehingga perlu penanganan yang cepat dan harus segera di bawa ke klinik atau RS. Gejala alergi anafilaksis paling sering terjadi pada gigitan serangga dan alergi obat tertentu namun reaksi anafilaksis akibat minum obat tersangat jarang terjadi.
E. Cara dokter mendiagnosa adanya reaksi alergi
a) Dokter menanyakan mengenai riwayat obat-obatan di masa lalu.
b) Dokter menanyakan mengenai kesehatan masa lalu
c) akan melakukan pemeriksaan fisik.
Jika tidak memberitahu dokter apakah anda memiliki alergi obat, maka ia dapat melakukannya tes kulit apakah Anda memiliki reaksi alergi.
Dalam beberapa kasus, Anda mungkin perlu tes darah atau lainnya jenis pengujian.
Adapun yang dilakukan oleh dokter ialah :
1. Dokter mewawancara (anamnesa) seperti:
a) Obat-obat apa saja yang Anda konsumsi belakangan ini? Apakah Anda mengonsumsi obat tradisional seperti obat Cina atau jamu-jamuan
b) . Apakah kelainan ini muncul setelah Anda mengonsumsi obat atau jamu tersebut?
c) Apakah ada rasa gatal dan demam yang tak terlalu tinggi?
2. Dokter melakukan pemeriksaan pada kulit Anda, dan diagnosa ini dapat ditegakkan dengan melihat adanya gejala:
a) Adanya penyebaran kelainan kulit yang tersebar dan simetris atau setempat saja
b) Adanya bentuk kelainan yang timbul seperti kemerahan pada kulit, adanya biduran, perdarahan dalam kulit, tonjolan bernanah, dan lainnya.
F. Pengobatan
Hal terbaik yang dapat Anda lakukan untuk alergi obat adalah untuk berhenti meminum obat yang menyebabkan alergi, dan bicara dengan dokter untuk melihat apakah Anda dapat menggunakan jenis obat lain yang dapat dikonsumsi tanpa timbul alergi.
a) Jika pasien memiliki reaksi alergi yang mengancam hidup pasien, dokter harus memberikan epinephrine. Jika pasien mengalami kesulitan bernapas atau jika mulai mendapatkan hives. Dokter perlu mengambil obat-obatan lainnya, seperti antihistamines steroid dan obat-obata, dan meletakkan obat-obatan ini secara langsung ke dalam pembuluh darah (IV).
b) Jika pasien memiliki reaksi alergi ringan, over-the-counter antihistamines gejala dapat membantu pasien. Namun memiliki efek ngantuk.
c) Jika dokter tidak dapat mengubah obat, dokter dapat mencoba metode yang disebut desensitization.
1) Pertama yang harus dilakukan adalah mulai mengambil jumlah kecil obat yang menyebabkan reaksi .
2) Secara perlahan-lahan tingkatkan jumlah dosis pemakaian. Hal ini memungkinkan pasien mendapatkan sistem kekebalan "digunakan untuk mendapatkan" obat. Setelah inipasien dapat dipastikan tidak lagi memiliki reaksi alergi.
Dokter akan mempertimbangkan antara dua jenis obat yaitu untuk memberikan efek :
a) sistemik (ke selutuh tubuh)
b) hanya topikal (setempat).
Tentunya ini berdasarkan kebutuhan dari pasien dan keadaan pasien.
Obat yang termasuk sistemik adalah obat jenis kortikosteroid yang diberikan secara diminum, misalnya obat prednison. Dokter juga dapat memberikan obat antihistamin untuk meredakan rasa gatal.
Pengobatan topikal juga bergantung pada keadaan kulit, apakah kering atau basah. Jika kering dapat diberikan bedak salisilat. Jika basah akan diberikan kompres dengan larutan salisilat.
Sebenarnya, penyakit ini dapat disembuhkan apabila kita mampu mengetahui obat apa atau zat apa yang menyebabkan alergi ini. Akan tetapi terdapat keadaan tertentu seperti nekrolisis epidermal toksik dan sindrom Steven Johnson, yang dapat mematikan. Hal ini kembali pada bagaimana kualitas dari reaksi tubuh tersebut kepada obat yang dipakai.
Pendekatan terhadap alergi saat ini sudah sangat maju. Dari obat-obatan sampai lewat imunoterapi , alergi obat ini dapat diatasi bila kita mengetahui jenis-jenis obat.
Obat alergi yang terbaik adalah dengan mencegah alergi tersebut dengan menghindari alergen/benda yang diketahui menyebabkan alergi. Jika telah terjadi alergi maka diperlukan obat untuk mengurangi gejala alergi yang terjadi. Obat alergi yang sering diberikan oleh dokter adalah antihistamin dan kostikosteroid. Kedua jenis obat tersebut banyak tersedia di apotik namun tetap harus berdasarkan resep dokter.
Pengobatan gejala alergi yang parah memerlukan pengobatan immunotherapy oleh dokter ahli alergi dengan memberikan suntikan dari allergen kepada penderita dengan tujuan membangun ketahanan tubuh terhadap allergen tersebut. Adapun alergi anafilaksis memerlukan perawatan medis darurat yang cepat dengan di bawa ke klinik atau RS. Adapun obat yang diberikan untuk pengobatan alergi anafilaksis adalah dengan suntikan epinefrin dan pemberian infus.
OBAT ALERGI DAN IMUNITAS
Obat alergi diperlukan untuk mengendalikan gejala alergi dengan menghilangkan alergen (penyebab alergi). Namun, untuk mengendalikan alergi dalam jangka panjang disarankan melakukan imunoterapi dengan vaksin antiserum dan imunologikal.
Obat alergi dapat terbagi dalam 2 golongan yaitu :
1. Obat alergi golongan antihistamin (AH1)
Obat alergi golongan antihistamin ini bekerja menghambat reseptor H1 (AH1) yang menyebabkan timbulnya reaksi alergi akibat dilepaskannya histamin. Histamin inilah yang kemudian menimbulkan reaksi imunitas seperti ruam kemerahan, gatal-gatal, pilek, bersin, dll.
2. Obat alergi golongan kortikosteroid (kortison)
Kortikosteroid merupakan hormon yang disekresi oleh kelenjar anak ginjal (adrenal cortex) atau obat-obat yang disintesis dan kerjanya analog dengan hormon ini. Efek yang ditimbulkan oleh obat ini luas sekali dan dapat dikatakan mempengaruhi hampir semua sistem dalam tubuh mulai dari keseimbangan cairan dan elektrolit hingga daya tahan tubuh. Oleh karena itu dalam terapi obat golongan steorid mempunyai indikasi yang sangat luas. Salah satunya sebagai anti alergi pada serangan akut dan parah Penggunaan kortikosteorid diusahakan tidak dalam jangka waktu panjang dan dengan dosis serendah mungkin yang sudah memberikan efek terapi sesuai indikasinya. Dipilih dulu sediaan yang nonsistemik (topikal atau inhalasi) karena tidak/sedikit sekali diserap ke dalam tubuh. Jika obat ini sudah digunakan dalam jangka waktu lama, maka untuk menghentikannya tidak boleh mendadak, tetapi harus diturunkan perlahan-lahan.
G. Pencegahan
Untuk mencegah alergi ini kembali:
a) Yang paling mudah adalah memastikan bahwa pasien tidak lagi mengonsumsi obat tersebut.
b) Bila pasien, pada kesempatan lainnya, berkonsultasi dengan dokter, ingatkanlah dokter bahwa pasien memiliki alergi terhadap obat tertentu.
c) Merubah pola hidup menjadi dasar perbaikan seluruh kondisi alergi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Alergi adalah suatu reaksi sistem kekebalan tubuh (imunitas) terhadap suatu bahan/zat asing (alergen). Bentuk reaksi itu macam-macam, bisa berbentuk ruam kemerahan, penyumbatan (kongesti), pilek, bersin, radang mata, asma, shock atau bahkan kematian (jarang terjadi).
Alergi sangat dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh. Normalnya sistem kekebalan tubuh dirancang untuk melawan bakteri, jamur, virus dan benda asing lainnya. Namun dalam kenyataannya sistem kekebalan tubuh menimbulkan reaksi yang berlebihan pada benda asing. Reaksi yang berlebihan oleh sistem kekebalan tubuh terhadap benda asing ini menimbulkan alergi.
Gejala-gejala alergi obat bisa mulai dari ringan ke sangat serius adalah:
6. hives atau welts, ruam, blisters, atau masalah kulit disebut eksim. Ini adalah yang paling umum gejala alergi obat. Lihat gambar kulit yang disebabkan oleh reaksi alergi obat.
7. Batuk, wheezing, Hidung, dan kesulitan bernapas.
8. demam.
9. kulit melepuh dan mengelupas. Masalah ini disebut racun berhubung dgn kulit necrolysis, dan dapat membawa maut jika tidak dirawat.
10. Anaphylaxis, yang merupakan reaksi paling berbahaya. Dapat membawa maut, dan Anda akan memerlukan perawatan darurat. Gejala, seperti hives dan kesulitan bernapas, biasanya muncul dalam waktu 1 jam setelah minum obat, reaksi cepat tanpa perawatan, Anda dapat masuk ke shock.
B. Saran
Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Untuk mencegah alergi ini kembali:
d) Yang paling mudah adalah memastikan bahwa pasien tidak lagi mengonsumsi obat tersebut.
e) Bila pasien, pada kesempatan lainnya, berkonsultasi dengan dokter, ingatkanlah dokter bahwa pasien memiliki alergi terhadap obat tertentu.
f) Merubah pola hidup menjadi dasar perbaikan seluruh kondisi alergi.
Daftar Pustaka
1) (http://www.pediatrik.com/pkb/20060220-k5ms69-pkb.pdf)
2) : http://donadivinamed.wordpress.com/2009/03/17/bio-resonance-therapy/
3) Sumber: wawancara. Ewy
4) Djuanda,adji,Prof,Dr,spkk,dkk.2010. MIMS Indonesia petunjuk konsultasi.Jakarta.CMP MEDIKA
by : insani miftachul janah dkk
makalah askeb neo,bayi, dan balita tentang kebersihan kulit
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Rencana asuhan pada bayi hari ke-2 sampai hari ke-6 setelah lahir harus dibuat secara menyeluruh dan rasional sesuai dengan temuan pada langkah sebelumnya atau sesuai dengan keadaan bayi pada saat itu, apakah dalam keadaan sehat/normal atau mengalami sakit/gangguan.
Pada bayi-bayi yang lahir diRS atau klinik-klinik bersalin, asuhan pada bayi usia 2-6 hari ini juga harus diinformasikan atau diajarkan kepada orang tua bayi, sehingga saat kembali kerumah, mereka sudah siap dan dapat melaksanakannya sendiri. Secara umum asuhan yang diberikan kepada bayi usia 2-6 hari meliputi hal-hal yang berkaitan dengan minum, BAK, BAB, Tidur, kebersihan kulit, keamanan, tanda-tanda bahaya dan penyuluhan.
perawatan fisik bayinya harus diyakinkan bahwa ada lebih dari satu cara yang benar dalam menangani berbagai aspek fisik perawatan bayinya.
B. TUJUAN
1) Untuk memenuhi tugas ASKEB NEONATUS, BAYI, dan BALITA
2) Untuk mengetahui cara menjaga kebersihan kulit bayi
3) Untuk mengetahui cara menjaga keamanan pada bayi
4) Untuk mengetahui macam-macamnakibat apabila kebersihan kulit bayi dan keamanan bayi kurang terjaga
5) Untuk mengetahui cara mengatasi cara mengatasi macam-macam akibat tersebut
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KEBERSIHAN KULIT BAYI
Orang tua yang memiliki kekhawatiran tentang perawatan fisik bayinya, harus diyakinkan bahwa ada lebih dari satu cara yang benar dalam menangani berbagai aspek fisik perawatan bayinya.
Bayi tidak perlu mandi lengkap setiap harinya. Kepala dan popok bayi baru lahir perlu dilap setiap kali area tersebut kotor. Rutinitas “puncak dan ekor” ini harus dilakukan menggunakan sabun ringan, tanpa kandungan deodoran, dan area tersebut harus dikeringkan dengan seksama.
Mandi lengkap dapat dilakukan sesekali bagi orang tua jika memiliki waktu senggang untuk membuat peristiwa tersebut dapat membuat rileks bayinya. Orang tua harus diberi tahu agar tidak meninggalkan bayi sendirian dikamar mandi. Sampo, sabun, handuk, dan pakaian bersih harus dipersiapkan sebelum memulai memandikan bayi. Karpet mandi anti selip dapat mencegah bayi tergelincir.
Perawatan kulit yang tertutup oleh popok sangat penting. Perawatan kulit harus dimulai dengan mengganti popok secara teratur dan dengan membersihkan kulit secara seksama dengan menggunakan sabun dan air atau dengan menggunakan waslap. Tidak perlu menggunakan bedak dan krim secara teratur pada bayi.
Gejala yang paling sering timbul yang berhubungan dengan kebersihan kulit bayi yaitu ruam popok dan cradlle cap. Penggunaan krim barier yang mengandung zink oksida (misal desitin) kadang-kadang dapat mengatasi ruam popok pada tahap paling awal.
2.1.1 RUAM POPOK
Sebagian besar merupakan dermatitis / reaksi kulit terhadap amoniak dalam urin dan kontaminasi bakteri yang berasal dari feses, serta udara yang lembab karena jarang mengganti popok.
Penting untuk mencatat lokasi, distribusi masalah dan apakah terdapat kemerahan menyeluruh, ruam atau kedua–duanya. Ruam popok ringan akibat berbagai iritasi muncul sebagai area datar yang kemerahan tanpa terlalu banyak lipatan kulit yang terkena. Kulit yang bermasalah harur dibersihkan dengan sabun ringan dan air hangat kuku. Bayi akan mengalami distress ketika area tersebut dibersihkan. Kapanpun memungkinkan, area yang tertutup harus dibiarkan terbuka sehingga udara dapat bersirkulasi. Apabila popok harus digunakan, sering-sering ganti popok pada tahap awal iritasi, krim barier zink oksida ( desitin ) dapat mencegah ruam bayi lebih lanjut.
Bayi memperlihatkan adanya lesi eritematosa yang nyata, yang juga mengenai lipatan kulit dan lesi satelit – satelit pada jarak tertentu dari perineum dan anus. Ruam popok mungkin disebabkan oleh candida albicans (jamur). Bayi yang alami ruam karena jamur akan merasa nyeri. Kelainan ini biasanya tidak menular dan jika diobati akan pulih kembali dalam waktu 72 jam, kecuali jika mengalami infeksi jamur yang ditandai dengan kulit berwarna merah terang disertai dengan bercak-bercak dengan tepi tegas, kadang-kadang teraba kasar dengan bisul-bisul kecil disekitar bagian yang tertutup popok, selangkangan, dan lipatan paha.
Untuk pencegahannya,jaga agar kulit bokong,selangkangan, dan lipatan paha senantiasa kering dan gantilah popok sesring mungkin serta membersihkan area yang sakit dengan menggunakan lap dan air hangat kuku, hal tersebut cukup membantu penyembuhan.
Bila ada pengelupasan kulit, vesikula / eksudat, orang tua harus seger evakuasi bayi. Kadang ruam kulit ringan secara sekunder diinfeksi oleh stafilococcus / streptococcus sehingga menyebabkab impetigo. Virus herpes simpleks / histiositosis dapat menyebabkan ruam popok walau kasus ini jarang ditemui. Jika bayi ditemui sering ruam popok, kaji orang tua apakah ikuti praktek higienis.
2.1.2 CRADLE CAP
Cradle cap (kekanak-kanakan atau neonatal dermatitis seboroik , juga dikenal sebagai lactea crusta, kerak susu, penyakit sarang madu) adalah kekuningan, merata, berminyak, kulit bersisik dan mengeras ruam yang terjadi pada kulit kepala bayi yang lahir baru-baru ini. Hal ini biasanya tidak gatal, dan tidak mengganggu bayi.
Cradle cap paling sering dimulai kapan di 3 bulan pertama. Gejala serupa pada anak-anak yang lebih tua lebih mungkin ketombe dari cradle cap. Ruam ini sering menonjol di sekitar telinga, alis atau kelopak mata. Mungkin muncul di lokasi lainnya, di mana hal itu disebut dermatitis seboroik daripada cradle cap. Beberapa negara menggunakan capitis pityriasis istilah untuk cradle cap. Hal ini sangat umum, dengan sekitar separuh dari semua bayi yang terkena. Sebagian besar dari mereka memiliki versi ringan dari kekacauan.
Penyebab cradle cap tidak didefinisikan secara jelas tetapi tidak disebabkan oleh alergi, infeksi atau dari kebersihan yang buruk. Mungkin itu ada hubungannya dengan terlalu aktif kelenjar minyak pada kulit bayi yang baru lahir, karena ibu hormon masih berada dalam sirkulasi bayi. Kelenjar merilis sebuah zat berminyak yang membuat sel-sel kulit lama menempel pada kulit kepala, bukan jatuh saat kering.
Solusi sesuai dengan kasus-kasus ringan. Jika kondisi mengental, berubah merah dan teriritasi, mulai menyebar, akan muncul di bagian tubuh lain, atau jika bayi terus-menerus mengembangkan ruam popok , intervensi medis direkomendasikan. infeksi jamur ( tinea capitis ) dan kudis dapat meniru cradle cap
Cradle cap ini kadang-kadang terkait dengan gangguan kekebalan tubuh. Jika bayi tidak berkembang dan memiliki masalah lain (misalnya diare ), seorang dokter harus dikonsultasikan.
Masalah ini dapat dihilangkan dengan melakukan masase lembut pada kulit kepala dengan minyak sayur / minyak zaitun dan dihilangkan dengan menggunakan sampo dan menggunakan sisir yang bergigi rapat. Masalah ini akan hilang jika bayi sering dikeramas dan disisir.
2.2 KEAMANAN PADA BAYI
Sejak bayi datang kerumah, orang tua harus memindai adanya bahaya lingkungan yang dapat menimbulkan resiko keamanan. Pada bulan-bulan pertama, resiko terutama berhubungan dengan jatuh (meja, atau tempat duduk bayi) atau terjepit diantara batang-batang tempat tidur bayi. Orang tua bayi harus berfikir untuk menggantung barang-barang sehingga tidak dapat dijangkau. Dan memindahkan bantal dan mainan lunak yang dapat menyebabkan sufokasi.
American academy of pediatrics task force on infant sleep position and sudden infant death syndrome merekomendasikan perubahan posisi tidur dari posisi prone ke posisi supine pada tahun 1992. Karena ada bukti kuat bahwa bayi harus diubah pada posisi supine(telentang). Saat tidur posisi ini meminimalisir resiko sindrom kematian mendadak (sudden infant death syndrome / SIDS). Berdasarkan riset, kematian akibat SIDS berkurang. Riset berlanjut tentang faktor lain yang berperan dalam SIDS antara lain :
1. Terdapat asosiasi antara SIDS dengan permukaan kasur yang empuk
2. Pemasangan kasur yang longgar
3. Asap rokok ibu
4. Berbagi tempat tidur dengan banyak anggota keluarga
5. Terlalu kepanasan
6. Kelahiran kurang bulan
Di sini bidan mempunyai posisi ideal untuk berbicara dengan anggota keluarga tentang pengaturan tidur, dan untuk mengingatkan agar tak seorangpun merokok dimana bayi berada. Data terkini menyebutkan, tidak mendukung keyakinan yang dimiliki banyak orang bahwa BBL harus diatur pada posisi tengkurap guna mencegah aspirasi makanan yang teregugirtasi, bayi harus selalu diatur dalam posisi supine untuk tidur dapat mengalami keterlambatan dalam mencapai tahap penting perkembangan, yaitu berguling, yang sebelumnya dapat dicapai pada bayi usia 4 bulan (20 minggu).
VARIASI UMUM DALAM 6 MINGGU PERTAMA
Ada variasi tertentu diantara bayi yang sama – sama merupakan kekhawatiran orang tua dan pemberi perawatan. Dalam setiap hal, bidan harus tetap waspada terhadap tanda dan gejala yang menunjuk ke masalah pokok yang lebih serius.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Kebersihan kulit bayi merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Orang tua harus sering membersihkan kulit bayi dari keringat dan kotoran terutama daerah genital. Popok bayi harus sering diganti agar bayi terhindar dari ruam popok. Daerah kepala bayi juga harus dijaga kebersihannya agar tidak menimbulkan crradle cap. Bayi harus sellalu dijaga keamanannya agar bayi tidak jatuh.
2. Saran
Kebersihan kulit bayi perlu benar-benar dijaga. Walaupun mandi dengan membasahi seluruh tubuh tidak harus dilakukan setiap hari, tetapi bagian-bagian seperti muka, bokong, dan tali pusat perlu dibersihkan secara teratur. Sebaiknya orang tua atau orang lain yang ingin memegang bayi diharuskan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Sedangkan dalam menjaga keamanan bayi yaitu jangan sekalipun meninggalkan bayi tanpa ada yang menungggu. Selain itu juga perlu dihindari untuk memberikan apapun ke mulut bayi selain ASI, karena bayi bisa tersedak dan jangan menggunakan alat penghangat buatan di tempat tidur bayi.
Daftar Pustaka
1) http://www.pgbeautygroomingscience.com/role-of-lipid-metabolism-in-seborrheic-dermatitis-dandruff.html
2) Djuanda,adji,Prof,Dr,spkk,dkk.2010. MIMS Indonesia petunjuk konsultasi.Jakarta.CMP MEDIKA
3) http://blogger.com/insanimiftachuljanah
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Rencana asuhan pada bayi hari ke-2 sampai hari ke-6 setelah lahir harus dibuat secara menyeluruh dan rasional sesuai dengan temuan pada langkah sebelumnya atau sesuai dengan keadaan bayi pada saat itu, apakah dalam keadaan sehat/normal atau mengalami sakit/gangguan.
Pada bayi-bayi yang lahir diRS atau klinik-klinik bersalin, asuhan pada bayi usia 2-6 hari ini juga harus diinformasikan atau diajarkan kepada orang tua bayi, sehingga saat kembali kerumah, mereka sudah siap dan dapat melaksanakannya sendiri. Secara umum asuhan yang diberikan kepada bayi usia 2-6 hari meliputi hal-hal yang berkaitan dengan minum, BAK, BAB, Tidur, kebersihan kulit, keamanan, tanda-tanda bahaya dan penyuluhan.
perawatan fisik bayinya harus diyakinkan bahwa ada lebih dari satu cara yang benar dalam menangani berbagai aspek fisik perawatan bayinya.
B. TUJUAN
1) Untuk memenuhi tugas ASKEB NEONATUS, BAYI, dan BALITA
2) Untuk mengetahui cara menjaga kebersihan kulit bayi
3) Untuk mengetahui cara menjaga keamanan pada bayi
4) Untuk mengetahui macam-macamnakibat apabila kebersihan kulit bayi dan keamanan bayi kurang terjaga
5) Untuk mengetahui cara mengatasi cara mengatasi macam-macam akibat tersebut
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KEBERSIHAN KULIT BAYI
Orang tua yang memiliki kekhawatiran tentang perawatan fisik bayinya, harus diyakinkan bahwa ada lebih dari satu cara yang benar dalam menangani berbagai aspek fisik perawatan bayinya.
Bayi tidak perlu mandi lengkap setiap harinya. Kepala dan popok bayi baru lahir perlu dilap setiap kali area tersebut kotor. Rutinitas “puncak dan ekor” ini harus dilakukan menggunakan sabun ringan, tanpa kandungan deodoran, dan area tersebut harus dikeringkan dengan seksama.
Mandi lengkap dapat dilakukan sesekali bagi orang tua jika memiliki waktu senggang untuk membuat peristiwa tersebut dapat membuat rileks bayinya. Orang tua harus diberi tahu agar tidak meninggalkan bayi sendirian dikamar mandi. Sampo, sabun, handuk, dan pakaian bersih harus dipersiapkan sebelum memulai memandikan bayi. Karpet mandi anti selip dapat mencegah bayi tergelincir.
Perawatan kulit yang tertutup oleh popok sangat penting. Perawatan kulit harus dimulai dengan mengganti popok secara teratur dan dengan membersihkan kulit secara seksama dengan menggunakan sabun dan air atau dengan menggunakan waslap. Tidak perlu menggunakan bedak dan krim secara teratur pada bayi.
Gejala yang paling sering timbul yang berhubungan dengan kebersihan kulit bayi yaitu ruam popok dan cradlle cap. Penggunaan krim barier yang mengandung zink oksida (misal desitin) kadang-kadang dapat mengatasi ruam popok pada tahap paling awal.
2.1.1 RUAM POPOK
Sebagian besar merupakan dermatitis / reaksi kulit terhadap amoniak dalam urin dan kontaminasi bakteri yang berasal dari feses, serta udara yang lembab karena jarang mengganti popok.
Penting untuk mencatat lokasi, distribusi masalah dan apakah terdapat kemerahan menyeluruh, ruam atau kedua–duanya. Ruam popok ringan akibat berbagai iritasi muncul sebagai area datar yang kemerahan tanpa terlalu banyak lipatan kulit yang terkena. Kulit yang bermasalah harur dibersihkan dengan sabun ringan dan air hangat kuku. Bayi akan mengalami distress ketika area tersebut dibersihkan. Kapanpun memungkinkan, area yang tertutup harus dibiarkan terbuka sehingga udara dapat bersirkulasi. Apabila popok harus digunakan, sering-sering ganti popok pada tahap awal iritasi, krim barier zink oksida ( desitin ) dapat mencegah ruam bayi lebih lanjut.
Bayi memperlihatkan adanya lesi eritematosa yang nyata, yang juga mengenai lipatan kulit dan lesi satelit – satelit pada jarak tertentu dari perineum dan anus. Ruam popok mungkin disebabkan oleh candida albicans (jamur). Bayi yang alami ruam karena jamur akan merasa nyeri. Kelainan ini biasanya tidak menular dan jika diobati akan pulih kembali dalam waktu 72 jam, kecuali jika mengalami infeksi jamur yang ditandai dengan kulit berwarna merah terang disertai dengan bercak-bercak dengan tepi tegas, kadang-kadang teraba kasar dengan bisul-bisul kecil disekitar bagian yang tertutup popok, selangkangan, dan lipatan paha.
Untuk pencegahannya,jaga agar kulit bokong,selangkangan, dan lipatan paha senantiasa kering dan gantilah popok sesring mungkin serta membersihkan area yang sakit dengan menggunakan lap dan air hangat kuku, hal tersebut cukup membantu penyembuhan.
Bila ada pengelupasan kulit, vesikula / eksudat, orang tua harus seger evakuasi bayi. Kadang ruam kulit ringan secara sekunder diinfeksi oleh stafilococcus / streptococcus sehingga menyebabkab impetigo. Virus herpes simpleks / histiositosis dapat menyebabkan ruam popok walau kasus ini jarang ditemui. Jika bayi ditemui sering ruam popok, kaji orang tua apakah ikuti praktek higienis.
2.1.2 CRADLE CAP
Cradle cap (kekanak-kanakan atau neonatal dermatitis seboroik , juga dikenal sebagai lactea crusta, kerak susu, penyakit sarang madu) adalah kekuningan, merata, berminyak, kulit bersisik dan mengeras ruam yang terjadi pada kulit kepala bayi yang lahir baru-baru ini. Hal ini biasanya tidak gatal, dan tidak mengganggu bayi.
Cradle cap paling sering dimulai kapan di 3 bulan pertama. Gejala serupa pada anak-anak yang lebih tua lebih mungkin ketombe dari cradle cap. Ruam ini sering menonjol di sekitar telinga, alis atau kelopak mata. Mungkin muncul di lokasi lainnya, di mana hal itu disebut dermatitis seboroik daripada cradle cap. Beberapa negara menggunakan capitis pityriasis istilah untuk cradle cap. Hal ini sangat umum, dengan sekitar separuh dari semua bayi yang terkena. Sebagian besar dari mereka memiliki versi ringan dari kekacauan.
Penyebab cradle cap tidak didefinisikan secara jelas tetapi tidak disebabkan oleh alergi, infeksi atau dari kebersihan yang buruk. Mungkin itu ada hubungannya dengan terlalu aktif kelenjar minyak pada kulit bayi yang baru lahir, karena ibu hormon masih berada dalam sirkulasi bayi. Kelenjar merilis sebuah zat berminyak yang membuat sel-sel kulit lama menempel pada kulit kepala, bukan jatuh saat kering.
Solusi sesuai dengan kasus-kasus ringan. Jika kondisi mengental, berubah merah dan teriritasi, mulai menyebar, akan muncul di bagian tubuh lain, atau jika bayi terus-menerus mengembangkan ruam popok , intervensi medis direkomendasikan. infeksi jamur ( tinea capitis ) dan kudis dapat meniru cradle cap
Cradle cap ini kadang-kadang terkait dengan gangguan kekebalan tubuh. Jika bayi tidak berkembang dan memiliki masalah lain (misalnya diare ), seorang dokter harus dikonsultasikan.
Masalah ini dapat dihilangkan dengan melakukan masase lembut pada kulit kepala dengan minyak sayur / minyak zaitun dan dihilangkan dengan menggunakan sampo dan menggunakan sisir yang bergigi rapat. Masalah ini akan hilang jika bayi sering dikeramas dan disisir.
2.2 KEAMANAN PADA BAYI
Sejak bayi datang kerumah, orang tua harus memindai adanya bahaya lingkungan yang dapat menimbulkan resiko keamanan. Pada bulan-bulan pertama, resiko terutama berhubungan dengan jatuh (meja, atau tempat duduk bayi) atau terjepit diantara batang-batang tempat tidur bayi. Orang tua bayi harus berfikir untuk menggantung barang-barang sehingga tidak dapat dijangkau. Dan memindahkan bantal dan mainan lunak yang dapat menyebabkan sufokasi.
American academy of pediatrics task force on infant sleep position and sudden infant death syndrome merekomendasikan perubahan posisi tidur dari posisi prone ke posisi supine pada tahun 1992. Karena ada bukti kuat bahwa bayi harus diubah pada posisi supine(telentang). Saat tidur posisi ini meminimalisir resiko sindrom kematian mendadak (sudden infant death syndrome / SIDS). Berdasarkan riset, kematian akibat SIDS berkurang. Riset berlanjut tentang faktor lain yang berperan dalam SIDS antara lain :
1. Terdapat asosiasi antara SIDS dengan permukaan kasur yang empuk
2. Pemasangan kasur yang longgar
3. Asap rokok ibu
4. Berbagi tempat tidur dengan banyak anggota keluarga
5. Terlalu kepanasan
6. Kelahiran kurang bulan
Di sini bidan mempunyai posisi ideal untuk berbicara dengan anggota keluarga tentang pengaturan tidur, dan untuk mengingatkan agar tak seorangpun merokok dimana bayi berada. Data terkini menyebutkan, tidak mendukung keyakinan yang dimiliki banyak orang bahwa BBL harus diatur pada posisi tengkurap guna mencegah aspirasi makanan yang teregugirtasi, bayi harus selalu diatur dalam posisi supine untuk tidur dapat mengalami keterlambatan dalam mencapai tahap penting perkembangan, yaitu berguling, yang sebelumnya dapat dicapai pada bayi usia 4 bulan (20 minggu).
VARIASI UMUM DALAM 6 MINGGU PERTAMA
Ada variasi tertentu diantara bayi yang sama – sama merupakan kekhawatiran orang tua dan pemberi perawatan. Dalam setiap hal, bidan harus tetap waspada terhadap tanda dan gejala yang menunjuk ke masalah pokok yang lebih serius.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Kebersihan kulit bayi merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Orang tua harus sering membersihkan kulit bayi dari keringat dan kotoran terutama daerah genital. Popok bayi harus sering diganti agar bayi terhindar dari ruam popok. Daerah kepala bayi juga harus dijaga kebersihannya agar tidak menimbulkan crradle cap. Bayi harus sellalu dijaga keamanannya agar bayi tidak jatuh.
2. Saran
Kebersihan kulit bayi perlu benar-benar dijaga. Walaupun mandi dengan membasahi seluruh tubuh tidak harus dilakukan setiap hari, tetapi bagian-bagian seperti muka, bokong, dan tali pusat perlu dibersihkan secara teratur. Sebaiknya orang tua atau orang lain yang ingin memegang bayi diharuskan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Sedangkan dalam menjaga keamanan bayi yaitu jangan sekalipun meninggalkan bayi tanpa ada yang menungggu. Selain itu juga perlu dihindari untuk memberikan apapun ke mulut bayi selain ASI, karena bayi bisa tersedak dan jangan menggunakan alat penghangat buatan di tempat tidur bayi.
Daftar Pustaka
1) http://www.pgbeautygroomingscience.com/role-of-lipid-metabolism-in-seborrheic-dermatitis-dandruff.html
2) Djuanda,adji,Prof,Dr,spkk,dkk.2010. MIMS Indonesia petunjuk konsultasi.Jakarta.CMP MEDIKA
3) http://blogger.com/insanimiftachuljanah
Rabu, 03 November 2010
Pemasaran sosial
BAB II
1. PENGERTIAN
Pemasaran sosial merupakan suatu kegiatan menjual produk yang berupa komoditi tertentu seperti pelayanan ide atau gagasan dengan mengaitkan pada kebutuhan atau minat masyarakat. Oleh karena itu proses pemasaran sosial jasa asuhan kebidanan agar dapat terlaksana dengan baik, perlu diadopsi pemasaran secara umum kemudian di aplikasikan secara intern sesuai dengan kebutuhan bidan.
Ada beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya adalah :
a. philip kotler ( marketing )
pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
b. Menurut Philip kotler dan amstrong
pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan perukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.
c. Menurut W.Stanton
pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan,menentukan harga,mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.
2. TUJUAN PEMASARAN SOSIAL JASA ASUHAN KEBIDANAN
1. Memberikan pelayanan yang bermutu yang dibutuhkan masyarakat.
2. Memberikan pelayanan sesuai dengan standart praktik ketrampilan yang manta( dalam memberikan pelayanan kepada klien )
3. MANAJEMEN PEMASARAN
Manajemen pemasaran berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pemasaran, yang meliputi:
a. Analisis
Analisis yaitu dengan membuat inventarisasi kelompok sasaran dan mencari institusi yang dapat yang dapat membantu dan bekerja sama. Sasaran pemasaran jasa asuhan kebidanan adalah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi, balita, calon pengantin, pasangan usia subur, wanita usia menopause, dan lanjut usia.
b. Melakukan riset.
Tujuan melakukan riset yaitu untuk mengetahui tanggapan masyarakat terutama kelompok sasaran terhadap jasa pelayanan yang akan diberikan.
c. Menyusun strategi pemasaran.
Strategi yang digunakan disini merupakan serangkaian tindakan terpadu menuju keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pemasaran adalah :
1. Faktor micro, yaitu perantara pemasaran, pesaing dan masyarakat.
2. Factor macro, yaitu demografi/ ekonomi, politik hukum, teknologi/fisik dan sosial/ budaya.
• Strategi pemasaran dari sudut pandang penjual :
1. Tempat yang strategis.
2. Produk yang bermutu.
3. Harga yang kompetitif.
4. Promosi yang gencar.
• Strategi pemasaran dari sudut pandang pembeli/ pelanggan :
1. Kebutuhan dan keinginan pelanggan...
2. Biaya.
3. Kenyamanan.
4. Komunikasi.
d. Monitoring dan evaluasi.
Kegiatan monitoring adalah proses untuk menemukan kekurangan atau kesalahan pada strategi yang telah ditetapkan. Evaluasi merupakan kegiatan untuk mengetahui apakah tujuan dari strategi pemasaran telah tercapai atau belum.
e. Pelaksanaan proses pemasaran.
Kegiatan ini menggunakan media yang telah dipersiapkan untuk menunjang program melalui pesa- pesan sehingga mudah diingat oleh masyarakat luas atau konsumen.
4. FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMASARAN SOSIAL JASA ASUHAN KEBIDANAN
a. Kebutuhan, keinginan dan permintaan.
Kebutuhan adalah keadaan dimana manusia merasa tidak memiliki kepuasan dasar. Kebutuhan dasar yang diperlukan misalnya pada persalinan dari segi :
• Kebutuhan dasar bidan.
Kelengkapan alat pertolongan persalinan, bahan- bahan dan obat- obatan.
• Kebutuhan dasar pasien.
Mendapatkan asuhan yang aman dan nyaman.
Keinginan adalah hasrat akan suatu hal sesuai dengan kebutuhannya tersebut. Asuhan sayang ibu adalah keinginan sang ibu. Beberapa prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah mengikut sertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi.
Asuhan sayang ibu dalam proses persalinan :
1. Panggil ibu sesuai namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai martabatnya.
2. Jelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya.
3. Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan ketakutan ataupun kekhawatirannya.
4. Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.
5. Berikan dukungan, besarkan hatinya dan tentramkan hati ibu dan anggota keluarganya.
6. Anjurkan ibu untuk ditemani suami atau anggota keluarga yang lain selama persalinan.
7. Lakukan praktek- praktek pencegahan infeksi yang baik.
8. Hargai privasi ibu.
9. Anjurkan ibu mencoba berbagai posisi selama persalinan.
10. Anjurkan ibu minum cairan atau makan makanan ringan bila ia mau.
11. Anjurkan ibu menyusui bayinya segera setelah lahir.
12. Membantu memulai pemberian ASI segera setelah bayi lahir.
13. Siapkan rencana rujukan.
Permintaan adalah keinginan akan sesuatu yang didukung kemampuan serta kesediaan membelinya, misalnya :
• Permintaan bidan.
Pasien senantiasa mengikuti nasehat dan saran bidan.
• Permintaan pasien.
Mendapatkan asuhan yang baik, aman dan nyaman bagi ibu dan bayinya selama proses persalinan.
b. Produk
Produk merupakan sesuatu yang ditawarkan untuk memuaskan suatu kebutuhan atau keinginan masyarakat, misalnya: keselamatan ibu dan bayinya.
c. Transaksi
Transaksi merupakan proses seseorang mendapatkan produk baik memproduksi sendiri, meminta maupun pertukaran.
d. Pertukaran
Pertukaran merupakan tindakan memperoleh barang yang dibutuhkan seseorang dengan menawarkan suatu imbalan. Pertukaran baru akan terjadi apabila kedua belah pihak dapat menyetujui syarat petukaran dan masing- masing mendapat keuntungan dari pertukaran tersebut. Misalnya : seorang pasien yang datang ke bidan untuk melakukan persalinan dan bidan membantu dalam proses persalinan dan pasien mendapat pelayanan yang aman dan nyaman bagi ibu dan bayinya kemudian bidan menerima imbalan dari pasien berupa materi.
e. Pasar
Pasar terdiri dari semua pelanggan yang potensial memiliki kebutuhan yang sama dan bersedia dan mampu melaksanakan pertukaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
BAB III
SISTEM PEMASARAN
A. Pengertian sistem pemasaran
Sistem adalah sekelompok item atau bagian- bagian yang saling berhubungan dan saling berkaitan secara tetap dalam membentuk suatu kesatuan terpadu. Jadi dapat diartikan sistem pemasaran adalah kumpulan lembaga- lembaga yang melakukan tugas pemasaran barang, jasa, ide, dan faktor- faktor lingkungan yang saling memberikan pengaruh dan membentuk serta mempengaruhi hubungan perusahaan dengan pasarnya.
Dalam pemasaran kelompok item yang saling berhubungan dan saling berkaitan itu mencakup :
1. Tempat melaksanakan kerja pemasaran.
2. Produk, jasa, gagasan yang dipasarkan.
3. Target klien.
4. Perantara ( kader )
5. Kendala lingkungan ( environmental constrains ).
Sistem pemasaran yang paling sederhana terdiri dari dua unsur yang saling berkaitan, yaitu tempat pemasaran dan target klien.
B. Promosi jasa jasa asuhan kebidanan
Promosi jasa asuhan kebidanan adalah upaya untuk mempromosikan jasa kebidanan kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan atau asuhan kebidanan. Pelayanan atau asuhan kebidanan termasuk dalam pelayanan kesehatan.
Karakteristik promosi jasa dalam pelayanan kesehatan antara lain :
1. Bersifat sukarela
Tidak memaksa klien menggunakan layanan yang ditawarkan, klien bebas menentukan pilihan layanan.
2. Kontak secara personal
Dalam pelayanan kesehatan tenaga kesehatan harus melakukan kontak langsung secara personal dengan klien melalui pendekatan sosial budaya.
3. Berpacu dengan waktu
Pelayanan kesehatan harus diberikan dengan segera dengan mempertimbangkan keadaan klien.
4. Sensitif ( terutama kesehatan reproduksi )
Kesehatan reproduksi merupakan hal yang sangat pribadi dan sensitif, sikap yang menghormati privasi klien akan membuat klien bersikap positif terhadap layanan kesehatan yang kita berikan.
Peran pemasaran dalam pelayanan kesehatan adalah untuk :
1. Menciptakan diferensiasi
Bidan dituntut mampu memberikan pelayanan yang beragam ( tanpa menyimpang dari kewenangan yang diberikan )
2. Manajemen kualitas pelayanan
Bidan mampu mengevaluasi diri mengenai kelebihan dan kekurangan layanan kesehatan yang ia tawarkan kepada klien.
3. Meningkatkan produktivitas
Tenaga kesehatan di tuntut untuk memperluas wawasan keilmuan serta ketrampilan teknisnya.
Promosi jasa dalam pelayanan kesehatan memiliki empat komponen utama, yaitu:
1. Klien/ pelanggan
Klien atau pelanggan merupakan konsumen dari pelayanan kesehatan yang memiliki kedudukan penting.
2. Kompetisi
Apabila kompetisi dikelola dengan baik maka akan memtivasi bidan untuk mengevaluasi dan mengembangkan diri.
3. Jaringan
Jaringan diperlukan untuk memperluas cakupan pemasaran pelayanan kesehatan yang akan membantu kelancaran kegiatan pemasaran. Jaringan tersebut dapat membentuk klinik pelayanan dirumah, rujukan, dan perusahaan.
4. Klinik
Dalam mengelola klinik diperlukan beberapa pertimbangan mencakup kekuatan merk, prose pelayanan, keunggulan kompetitif dan tarif pelayanan.
BAB IV
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dari pembahasan ini dapat diambil kesimpulan bahwa pemasaran sosial merupakan suatu kegiatan menjual prduk yang berupa komoditi tertentu seperti pelayanan, ide, atau gagasan dengan mengaitkan pada kebutuhan atau minat masyarakat. Sasaran khusus dalam pemasaran asuhan kebidanan adalah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi, balita, calon pengantin, pasangan usia subur, wanita usia menopause dan lanjut usia. Tujuan pemasaran asuhan kebidanan yaitu untuk memberikan pelayanan yang bermutu yang dibutuhkan masyarakat dan memberikan pelayanan sesuai dengan standart praktik, ketrampilan yang mantap.
2. SARAN
1. Berikan asuhan kebidanan yang aman dan nyaman bagi pasien.
2. Dalam memberikan pelayanan tetap jaga privasi pasien.
3. Ciptakan rasa saling percaya antara klien dan bidan.
1. PENGERTIAN
Pemasaran sosial merupakan suatu kegiatan menjual produk yang berupa komoditi tertentu seperti pelayanan ide atau gagasan dengan mengaitkan pada kebutuhan atau minat masyarakat. Oleh karena itu proses pemasaran sosial jasa asuhan kebidanan agar dapat terlaksana dengan baik, perlu diadopsi pemasaran secara umum kemudian di aplikasikan secara intern sesuai dengan kebutuhan bidan.
Ada beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya adalah :
a. philip kotler ( marketing )
pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
b. Menurut Philip kotler dan amstrong
pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan perukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.
c. Menurut W.Stanton
pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan,menentukan harga,mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.
2. TUJUAN PEMASARAN SOSIAL JASA ASUHAN KEBIDANAN
1. Memberikan pelayanan yang bermutu yang dibutuhkan masyarakat.
2. Memberikan pelayanan sesuai dengan standart praktik ketrampilan yang manta( dalam memberikan pelayanan kepada klien )
3. MANAJEMEN PEMASARAN
Manajemen pemasaran berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pemasaran, yang meliputi:
a. Analisis
Analisis yaitu dengan membuat inventarisasi kelompok sasaran dan mencari institusi yang dapat yang dapat membantu dan bekerja sama. Sasaran pemasaran jasa asuhan kebidanan adalah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi, balita, calon pengantin, pasangan usia subur, wanita usia menopause, dan lanjut usia.
b. Melakukan riset.
Tujuan melakukan riset yaitu untuk mengetahui tanggapan masyarakat terutama kelompok sasaran terhadap jasa pelayanan yang akan diberikan.
c. Menyusun strategi pemasaran.
Strategi yang digunakan disini merupakan serangkaian tindakan terpadu menuju keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pemasaran adalah :
1. Faktor micro, yaitu perantara pemasaran, pesaing dan masyarakat.
2. Factor macro, yaitu demografi/ ekonomi, politik hukum, teknologi/fisik dan sosial/ budaya.
• Strategi pemasaran dari sudut pandang penjual :
1. Tempat yang strategis.
2. Produk yang bermutu.
3. Harga yang kompetitif.
4. Promosi yang gencar.
• Strategi pemasaran dari sudut pandang pembeli/ pelanggan :
1. Kebutuhan dan keinginan pelanggan...
2. Biaya.
3. Kenyamanan.
4. Komunikasi.
d. Monitoring dan evaluasi.
Kegiatan monitoring adalah proses untuk menemukan kekurangan atau kesalahan pada strategi yang telah ditetapkan. Evaluasi merupakan kegiatan untuk mengetahui apakah tujuan dari strategi pemasaran telah tercapai atau belum.
e. Pelaksanaan proses pemasaran.
Kegiatan ini menggunakan media yang telah dipersiapkan untuk menunjang program melalui pesa- pesan sehingga mudah diingat oleh masyarakat luas atau konsumen.
4. FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMASARAN SOSIAL JASA ASUHAN KEBIDANAN
a. Kebutuhan, keinginan dan permintaan.
Kebutuhan adalah keadaan dimana manusia merasa tidak memiliki kepuasan dasar. Kebutuhan dasar yang diperlukan misalnya pada persalinan dari segi :
• Kebutuhan dasar bidan.
Kelengkapan alat pertolongan persalinan, bahan- bahan dan obat- obatan.
• Kebutuhan dasar pasien.
Mendapatkan asuhan yang aman dan nyaman.
Keinginan adalah hasrat akan suatu hal sesuai dengan kebutuhannya tersebut. Asuhan sayang ibu adalah keinginan sang ibu. Beberapa prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah mengikut sertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi.
Asuhan sayang ibu dalam proses persalinan :
1. Panggil ibu sesuai namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai martabatnya.
2. Jelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya.
3. Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan ketakutan ataupun kekhawatirannya.
4. Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.
5. Berikan dukungan, besarkan hatinya dan tentramkan hati ibu dan anggota keluarganya.
6. Anjurkan ibu untuk ditemani suami atau anggota keluarga yang lain selama persalinan.
7. Lakukan praktek- praktek pencegahan infeksi yang baik.
8. Hargai privasi ibu.
9. Anjurkan ibu mencoba berbagai posisi selama persalinan.
10. Anjurkan ibu minum cairan atau makan makanan ringan bila ia mau.
11. Anjurkan ibu menyusui bayinya segera setelah lahir.
12. Membantu memulai pemberian ASI segera setelah bayi lahir.
13. Siapkan rencana rujukan.
Permintaan adalah keinginan akan sesuatu yang didukung kemampuan serta kesediaan membelinya, misalnya :
• Permintaan bidan.
Pasien senantiasa mengikuti nasehat dan saran bidan.
• Permintaan pasien.
Mendapatkan asuhan yang baik, aman dan nyaman bagi ibu dan bayinya selama proses persalinan.
b. Produk
Produk merupakan sesuatu yang ditawarkan untuk memuaskan suatu kebutuhan atau keinginan masyarakat, misalnya: keselamatan ibu dan bayinya.
c. Transaksi
Transaksi merupakan proses seseorang mendapatkan produk baik memproduksi sendiri, meminta maupun pertukaran.
d. Pertukaran
Pertukaran merupakan tindakan memperoleh barang yang dibutuhkan seseorang dengan menawarkan suatu imbalan. Pertukaran baru akan terjadi apabila kedua belah pihak dapat menyetujui syarat petukaran dan masing- masing mendapat keuntungan dari pertukaran tersebut. Misalnya : seorang pasien yang datang ke bidan untuk melakukan persalinan dan bidan membantu dalam proses persalinan dan pasien mendapat pelayanan yang aman dan nyaman bagi ibu dan bayinya kemudian bidan menerima imbalan dari pasien berupa materi.
e. Pasar
Pasar terdiri dari semua pelanggan yang potensial memiliki kebutuhan yang sama dan bersedia dan mampu melaksanakan pertukaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
BAB III
SISTEM PEMASARAN
A. Pengertian sistem pemasaran
Sistem adalah sekelompok item atau bagian- bagian yang saling berhubungan dan saling berkaitan secara tetap dalam membentuk suatu kesatuan terpadu. Jadi dapat diartikan sistem pemasaran adalah kumpulan lembaga- lembaga yang melakukan tugas pemasaran barang, jasa, ide, dan faktor- faktor lingkungan yang saling memberikan pengaruh dan membentuk serta mempengaruhi hubungan perusahaan dengan pasarnya.
Dalam pemasaran kelompok item yang saling berhubungan dan saling berkaitan itu mencakup :
1. Tempat melaksanakan kerja pemasaran.
2. Produk, jasa, gagasan yang dipasarkan.
3. Target klien.
4. Perantara ( kader )
5. Kendala lingkungan ( environmental constrains ).
Sistem pemasaran yang paling sederhana terdiri dari dua unsur yang saling berkaitan, yaitu tempat pemasaran dan target klien.
B. Promosi jasa jasa asuhan kebidanan
Promosi jasa asuhan kebidanan adalah upaya untuk mempromosikan jasa kebidanan kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan atau asuhan kebidanan. Pelayanan atau asuhan kebidanan termasuk dalam pelayanan kesehatan.
Karakteristik promosi jasa dalam pelayanan kesehatan antara lain :
1. Bersifat sukarela
Tidak memaksa klien menggunakan layanan yang ditawarkan, klien bebas menentukan pilihan layanan.
2. Kontak secara personal
Dalam pelayanan kesehatan tenaga kesehatan harus melakukan kontak langsung secara personal dengan klien melalui pendekatan sosial budaya.
3. Berpacu dengan waktu
Pelayanan kesehatan harus diberikan dengan segera dengan mempertimbangkan keadaan klien.
4. Sensitif ( terutama kesehatan reproduksi )
Kesehatan reproduksi merupakan hal yang sangat pribadi dan sensitif, sikap yang menghormati privasi klien akan membuat klien bersikap positif terhadap layanan kesehatan yang kita berikan.
Peran pemasaran dalam pelayanan kesehatan adalah untuk :
1. Menciptakan diferensiasi
Bidan dituntut mampu memberikan pelayanan yang beragam ( tanpa menyimpang dari kewenangan yang diberikan )
2. Manajemen kualitas pelayanan
Bidan mampu mengevaluasi diri mengenai kelebihan dan kekurangan layanan kesehatan yang ia tawarkan kepada klien.
3. Meningkatkan produktivitas
Tenaga kesehatan di tuntut untuk memperluas wawasan keilmuan serta ketrampilan teknisnya.
Promosi jasa dalam pelayanan kesehatan memiliki empat komponen utama, yaitu:
1. Klien/ pelanggan
Klien atau pelanggan merupakan konsumen dari pelayanan kesehatan yang memiliki kedudukan penting.
2. Kompetisi
Apabila kompetisi dikelola dengan baik maka akan memtivasi bidan untuk mengevaluasi dan mengembangkan diri.
3. Jaringan
Jaringan diperlukan untuk memperluas cakupan pemasaran pelayanan kesehatan yang akan membantu kelancaran kegiatan pemasaran. Jaringan tersebut dapat membentuk klinik pelayanan dirumah, rujukan, dan perusahaan.
4. Klinik
Dalam mengelola klinik diperlukan beberapa pertimbangan mencakup kekuatan merk, prose pelayanan, keunggulan kompetitif dan tarif pelayanan.
BAB IV
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dari pembahasan ini dapat diambil kesimpulan bahwa pemasaran sosial merupakan suatu kegiatan menjual prduk yang berupa komoditi tertentu seperti pelayanan, ide, atau gagasan dengan mengaitkan pada kebutuhan atau minat masyarakat. Sasaran khusus dalam pemasaran asuhan kebidanan adalah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi, balita, calon pengantin, pasangan usia subur, wanita usia menopause dan lanjut usia. Tujuan pemasaran asuhan kebidanan yaitu untuk memberikan pelayanan yang bermutu yang dibutuhkan masyarakat dan memberikan pelayanan sesuai dengan standart praktik, ketrampilan yang mantap.
2. SARAN
1. Berikan asuhan kebidanan yang aman dan nyaman bagi pasien.
2. Dalam memberikan pelayanan tetap jaga privasi pasien.
3. Ciptakan rasa saling percaya antara klien dan bidan.
Langganan:
Postingan (Atom)